Contoh Koherensi & Kohesi Pada Paragraf

  • Uploaded by: Titto Rafi
  • 0
  • 0
  • last month
  • PDF

This document was uploaded by user and they confirmed that they have the permission to share it. If you are author or own the copyright of this book, please report to us by using this DMCA report form. Report DMCA


Overview

Download & View Contoh Koherensi & Kohesi Pada Paragraf as PDF for free.

More details

  • Words: 1,007
  • Pages: 3
Loading documents preview...
Titto Rafi’ Ramadhan 3.41.19.5.28 AK-1F

EKSISTENSI PASAR TRADISIONAL DAN PEDAGANG KAKI LIMA DALAM MENDUKUNG SEKTOR PARIWISATA UNTUK MEWUJUDKAN MEDAN BERHIAS (BERSIH, HIJAU, ASRI DAN SEHAT) Lila Bismala Aktivitas perdagangan akan selalu membutuhkan fasilitas yang beruparuang dengan prasarana dan sarana yang memadai untuk mewadahi aktivitas tersebut. Pasar merupakan salah satu fasilitas bagi aktivitas perdagangan tersebut. Pasar tradisional merupakan tempat di mana para penjual dan pembeli dapat mengadakan tawar menawar secara langsung dan barang yang diperjual belikan merupakan barang kebutuhan pokok. Pasar Tradisional sebagai salah satu pasar ritel adalah simbol perekonomian rakyat. Nilai utilitas atau nilai guna pasar tradisional sangat urgen bagi masyarakat bawah, karena terdapat puluhan ribu orang rakyat kecil (pedagang) yang menggantungkan biaya hidupnya, sumber penghidupannya. Di satu sisi perkembangan pasar modern menimbulkan suatu kekhawatiran akan dapat menggeser posisi pasar tradisional. Di sisi lain kehadiran pasar modern dirasa lebih menguntungkan konsumen karena memunculkan berbagai alternatif tempat untuk berbelanja dengan fasilitas yang menyenangkan. Pasar modern berhasil menangkap kebutuhan konsumen, mampu memenuhi keinginan serta selera konsumen, sementara pasar tradisional lambat merespons perubahan perilaku berbelanja konsumen yang semakin dinamis. Akibatnya, perilaku berbelanja konsumenpun ikut berubah dan mulai berpaling ke pasar modern. Mengantisipasi perkembangan pola berbelanja masyarakat (perubahan perilaku) dan peningkatan tuntutan masyarakat yang menginginkan pelayanan pasar yang lebih profesional dan sekaligus mengantisipasi perkembangan atau persaingan perdagangan eceran (retail business) yang semakin tajam dan semakin ketat di masa yang akan datang, maka dituntut untuk melakukan upaya pembenahan untuk mengubah memperbaiki citra (image) pasar tradisional yang terkesan negatif untuk kemudian tampil dalam performa baru menyangkut manajemen/restrukturisasi, sumber daya manusia, sumber dana, kualitas pelayanan, penyediaan sarana prasarana berbelanja yang memadai serta kualitas dan kuantitas komoditas yang dijual sesuai dengan tuntutan masyarakat. Para pedagang dan pengelola pasar tradisional perlu melakukan introspeksi diri dengan melihat apakah selama ini pedagang telah memahami keinginan konsumen ataukah belum. Masyarakat sudah terlanjur mempersepsikan pasar tradisional berada dalam kondisi yang tidak menyenangkan. Hal ini ditandai dengan keadaaan yang becek, kumuh, tidak tertib, banyaknya pedagang kaki lima yang membuka lapak di luar area resmi. Keadaan ini sangat tidak menyenangkan bagi kosumen dan membuat kepuasan konsumen pasar tradisional menurun dan banyak yang beralih ke pasar modern. Hal lain yang melekat pada keberadaan pasar tradisional adalah banyaknya pedagang kaki lima yang berada di area-area tak resmi dari sebuah pasar. Pandangan masyarakat tentang keberadaan pedagang kaki lima yang berada di luar area seringkali mengganggu kenyamanan pembeli, membuat kemacetan jalan dan kesan kotor yang ditimbulkan akibat sampah yang ditinggalkan begitu saja.

Kohesi : Kohesi atau kepaduan wacana ialah keserasian hubungan antarunsur yang satu dengan unsur yang lain dalam wacana, sehingga terciptalah pengertian yang koheren. 1. Pronomina, disebut juga kata ganti. Dalam bahasa Indonesia kata ganti terdiri dari kata ganti diri, kata ganti petunjuk, kata ganti empunya, kata ganti penanya, kata ganti penghubung, dan kata ganti taktentu. a. Kata ganti diri, dalam bahasa Indonesia meliputi: saya, aku, kami, kita, engkau, kau, kamu. Kalian, anda, dia, dan mereka. b. Kata ganti petunjuk, dalam bahasa Indonesia meliputi: ini, itu, sini, sana, di sini, di sana, di situ, ke sini, dan ke sana. c.

Kata ganti penanya, dalam bahasa Indonesia meliputi: apa, siapa, dan mana.

d.

Kata ganti penghubung, dalam bahasa Indonesia yaitu yang.

e. Kata ganti taktentu, dalam bahasa Indonesia meliputi: siapa-siapa, masing-masing, sesuatu, seseorang, para. 2. Substitusi merupakan hubungan gramatikal, lebih bersifat hubungan kata dan makna.Substitusi dalam bahasa Indonesia dapat bersifat nominal, verbal, klausal, dan campuran.Misalnya: satu, sama, seperti itu, sedemikian rupa, demikian pula, melakukan hal yang sama. 3. Elipsis ialah peniadaan kata atau satuan lai yang wujud asalnya dapat diramalkan dari konteks luar bahasa. Elipsis dapat pula dikatakan penggantian nol (zero), sesuatu yang ada tetapi tidak diucapkan atau tidak dituliskan. Elipsis dapat pula dibedakan atas elipsis nominal, elipsis verbal, dan elipsis klausal. 4. Konjungsi digunakan untuk menggunakan kata dengan kata, frasa dengan frasa, klausa dengan klausa, atau paragraf dengan paragraf (Tarigan, 1987: 101). Konjungsi dalam bahasa Indonesia dikelompokkan menjadi: a.

konjungsi adversatif : tetapi, namun

b.

konjungsi kausal : sebab, karena

c.

konjungsi koordinatif : dan, atau, tetapi

d.

konjungsi korelatif : entah, baik, maupun

e.

konjungsi subordinatif : meskipun, kalau, bahwa

f.

konjungsi temporal : sebelum, sesudah

5. Leksikal diperoleh dengan cara memilih kosakata yang serasi, misalnya pengulangan kata yang sama, sinonim, antonim, hiponim, kolokasi, dan ekuivalen. Ada beberapa cara untuk mencapai aspek leksikal kohesi, antara lain: a.

pengulangan kata yang sama : pemuda – pemuda

b.

sinonim : pahlawan – pejuang

c.

antonim : putra – putri

d.

hiponim : angkutan darat – kereta api, bis, mobil

e.

kolokasi : buku, koran, majalah – media massa

f.

ekuivalensi : belajar, mengajar, pelajar, pengajaran

Koherensi merupakan pengaturan secara rapi kenyataan dan gagasan, fakta, dan ide menjadi suatu untaian yang logis sehingga mudah memahami pesan yang dihubungkannya. Ada beberapa penanda koherensi yang digunakan dalam penelitian ini, diantaranya penambahan (aditif), rentetan (seri), keseluruhan ke sebagian, kelas ke anggota, penekanan, perbandingan (komparasi), pertentangan (kontras), hasil (simpulan), contoh (misal), kesejajaran (paralel), tempat (lokasi), dan waktu (kala). 1. Penambahan (aditif), penanda koherensi yang bersifat aditif atau berupa penambahan antara lain: dan, juga, selanjutnya, lagi pula, serta. 2. Rentetan (seri), penanda koherensi yang berupa rentetan atau seria ialah pertama, kedua, …, berikut, kemudian, selanjutnya, akhirnya. 3. Keseluruhan ke sebagian, yaitu pembicaraan atau tulisan yang dimulai dari keseluruhan, baru kemudian beralih atau memperkenalkan bagian-bagiannya. 4. Kelas ke anggota, yang dimaksud penanda koherensi ini ialah dengan menyebutkan bagian yang umum menuju ke bagian-bagian lebih khusus. 5. Penekanan, yang dimaksud penenda koherensi ini ialah kata atau frasa yang memberikan penekanan terhadap kalimat sebelumnya ataupun kalimat sesudahnya. 6. Perbandingan (komparasi), penanda koherensi ini ialah sama halnya, hal serupa, hal yang sama, seperti, tidak seperti, dll. 7. Pertentangan (kontras), penanda koherensi ini dapat berupa tetapi, tapi, meskipun, sebaliknya, namun, walaupun, dan namun demikian. 8. Hasil (simpulan), yag dimaksud penanda koherensi ini ialah kata atau frasa yang mengacu pada simpulan. 9. Contoh (misal), penanda koherensi ini dapat berupa antara lain: umpamanya, misalnya, contohnya. 10. Kesejajaran (paralel) 11. Tempat (lokasi), penanda koherensi ini antara lain: di sini, di situ, di rumah, dll. 12. Waktu (kala), penanda koherensi ini antara lain: mula-mula, sementara itu, tidak lama kemudian, ketika itu.

Related Documents


More Documents from "atalikaci"