Makalah Sholat 2

  • Uploaded by: Fitri Noor Hidayah
  • 0
  • 0
  • February 2021
  • PDF

This document was uploaded by user and they confirmed that they have the permission to share it. If you are author or own the copyright of this book, please report to us by using this DMCA report form. Report DMCA


Overview

Download & View Makalah Sholat 2 as PDF for free.

More details

  • Words: 15,114
  • Pages: 47
Loading documents preview...
BAB I PENDHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan umat islam masyarakat meyakini dan mengetahui bahwa sholat merupakan perintah yang harus dilakukan oleh umat islam itu sendiri. Didalam pelaksanaan sholat ada beberapa hal yang harus dilakukan seseorang yang hendak melaksanakan sholat seperti mempunyai wudu‟ suci tempatnya dan pakaiannya karena kedua hal tersebut merupakan salah satu dari syarat sholat sehingga ketika seseorang melakukan sholat dan keduanya ditinggalkan maka hal tersebut dapat membatalkan sholat seseorang karena ketika salah syarat shahnya sholat di tinggalkan maka secara langsung sholatnya itu tidak di terima oleh Allah SWT, baik itu sholat yang wajib ataupun sholat sunnah, yang keduanya itu pernah di lakukan/dipraktekkan oleh Nabi Muhammad SAW sehingga sampai sekarang hal itu dilakukan secara berkesinambungan. Sholat merupakan salah satu bentuk interaksi langsung antara manusia dengan Allah SWT, maka dari itu ketika kita melakukan atau melaksanakan sholat kita di anjurkan untuk khususk dalam sholat supaya sholat tersebut bisa di terima oleh Allah SWT Yang Maha Esa. Selain dari itu sholat memiliki berbagai macam keistimewaan. Di dalam pelaksanaan sholat, Allah tidak memberatkan umat-Nya, artinya sholat dapat ditinggalkan ketika seseorang tersebut mempunyai halangan seperti haid bagi wanita, dan Allah juga memberikan keringanan terhadap pelaksanaan sholat seperti memperpendek sholat dan juga melaksanakan sholat dengan duduk atau berbaring.

B. Rumusan Masalah 1. Apa pengertian sholat ? 2. Bagaimanakah hukum dan dalil mengenai sholat? 3. Bagaimanakah sejarah mengenai kewajiban sholat? 4. Sunnah apa saja yang harus dilakukan sebelaum melakukan sholat? 5. Apa sajakah kriteria yang harus dipenuhi untuk melaksanakan sholat? 6. Bagaimana struktur sholat Nabi Muhammad SAW? 7. Kapan pelaksanaan sholat? 8. Apa saja manfaat dan hikmah dari sholat? 1

C. Tujuan Penulisan Makalah Adapun tujuan dari penulisan makalah ini ialah untuk dapat memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam D3 Penilai STAN yang dibina oleh bapak Syukron Makmun sehingga dengan penulisan makalah ini kami dapat lebih luas tentang sholat.

D. Manfaat Penulisan Makalah Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah memberikan kemudahan kepada siapa saja untuk dapat memahami kewajiban sholat dan mempraktekkannya secara benar dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan dalil dalam Al-Quran dan Hadist seperti yang Nabi Muhammad SAW contohkan terdahulu.

2

BAB II KAJIAN TEORI

A. Pengertian Sholat Sholat berasal dari bahasa Arab, yakni ‫اٌصالح‬. Secara etimologi sholat berarti do‟a dan secara terminologi atau istilah, para ahli fiqih mengartikan secara lahir dan hakiki. Secara lahiriah sholat berarti beberapa ucapan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam, yang dengannya kita beribadah kepada Allah menurut syarat – syarat yang telah ditentukan (Sidi Gazalba,88). Adapun secara hakikinya, sholat ialah “berhadapan hati (jiwa) kepada Allah, secara yang mendatangkan takut kepada-Nya serta menumbuhkan di dalam jiwa rasa kebesarannya dan kesempurnaan kekuasaan-Nya” atau “mendahirkan hajat dan keperluan kita kepada Allah yang kita sembah dengan perkataan dan pekerjaan atau dengan kedua – duanya” (Hasbi Asy-Syidiqi, 59). Dalam pengertian lain sholat ialah salah satu sarana komunikasi antara hamba dengan Tuhannya sebagai bentuk, ibadah yang di dalamnya merupakan amalan yang tersusun dari beberapa perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbiratul ikhram dan diakhiri dengan salam, serta sesuai dengan syarat dan rukun yang telah ditentukan syara‟ (Imam Bashari Assayuthi, 30). Shalat dengan makna doa dicontohkan di dalam Al-Quran pada ayat berikut ini. َّ َٚ ُْ ٌَُٙ ٌٓ ‫ه َع َى‬ ٌُ ١ٍِ‫ ٌغ َػ‬١ِّ ‫َّللاُ َع‬ َ َ‫صالر‬ َ َّْ ِ‫ ُْ إ‬ِٙ ١ْ ٍَ‫ص ًِّ َػ‬ َ َٚ ‫َب‬ِٙ‫ ُْ ث‬ِٙ ١‫رُ َض ِّو‬َٚ ُْ ُ٘‫ِّ ُش‬َٙ‫ص َذلَخً رُط‬ َ ُْ ِٙ ٌِ‫ا‬َٛ ِْ َ‫ُخ ْز ِِ ْٓ أ‬ Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan shalatlah (mendo'alah) untuk mereka. Sesungguhnya shalat (do'a) kamu itu merupakan ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS. At-Taubah : 103) Dalam ayat ini, shalat yang dimaksud sama sekali bukan dalam makna syariat, melainkan dalam makna bahasanya secara asli yaitu berdoa. Adapun makna menurut syariah, shalat didefinisikan sebagai “serangkaian ucapan dan gerakan yang tertentu yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam sebagai sebuah ibadah ritual”. Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa sholat adalah merupakan ibadah kepada Tuhan, berupa perkataan denga perbuatan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam menurut syarat dan rukun yang telah ditentukan syara”. Juga sholat merupakan penyerahan diri (lahir dan bathin) kepada Allah dalam rangka ibadah dan memohon ridho-Nya. 3

B. Hukum dan Dalil Tentang Sholat Sholat diwajibkan dengan dalil yang qath`i dari Al-Quran, As-Sunnah dan Ijma‟ umat Islam sepanjang zaman. Tidak ada yang menolak kewajiban sholat kecuali orang-orang kafir atau zindiq. Sebab semua dalil yang ada menunjukkan kewajiban sholat secara mutlak untuk semua orang yang mengaku beragama Islam yang sudah akil baligh. Bahkan anak kecil sekalipun diperintahkan untuk melakukan sholat ketika berusia 7 tahun. Dan boleh dipukul bila masih tidak mau sholat usia 10 tahun, meski belum baligh. 1. Dalil dari Al-Quran

Allah SWT berfirman di dalam Al-Quran Al-Kareim َّ ‫ا‬ُٚ‫َ ْؼجُذ‬١ٌِ ‫ا إِال‬ُٚ‫ َِب أُ ِِش‬َٚ ‫ِّ َّ ِخ‬١َ‫ُٓ ْاٌم‬٠‫ه ِد‬ َ ٌِ‫ َر‬َٚ َ‫ا اٌ َّض َوبح‬ُٛ‫ ُْؤر‬٠َٚ َ‫ا اٌصَّالح‬ُّٛ ١ِ‫ُم‬٠َٚ ‫َٓ ُؽَٕفَب َء‬٠‫َٓ ٌَُٗ اٌ ِّذ‬١‫ص‬ ِ ٍِ‫َّللاَ ُِ ْخ‬ "...Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya dalam agama yang lurus , dan supaya mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus."(QS. Al-Bayyinah : 5) َّ ِٟ‫ا ف‬ُٚ‫ َعب ِ٘ذ‬َٚ َّ ‫َّللاِ َؽ‬ ُُ ‫ َع َّّب ُو‬َُٛ ٘ َُ ١ِ٘ ‫ ُى ُْ إِ ْث َشا‬١ِ‫ط ٍَِِّخَ أَث‬ ِ ‫ اٌذ‬ِٟ‫ ُى ُْ ف‬١ْ ٍَ‫ َِب َع َؼ ًَ َػ‬َٚ ُْ ‫ اعْ زَجَب ُو‬َٛ ُ٘ ِٖ ‫َب ِد‬ٙ‫ك ِع‬ ٍ ‫ٓ ِِ ْٓ َؽ َش‬٠ِّ َ‫ا اٌ َّض َوبح‬ُٛ‫ َءار‬َٚ َ‫ا اٌصَّالح‬ُّٛ ١ِ‫بط فَأَل‬ ِ ٌَّٕ‫ ا‬ٍَٝ‫َذَا َء َػ‬ٙ‫ا ُش‬ُٛٔٛ‫رَ ُى‬َٚ ُْ ‫ ُى‬١ْ ٍَ‫ذًا َػ‬١ِٙ ‫ ُي َش‬ُٛ‫َْ اٌ َّشع‬ٛ‫َ ُى‬١ٌِ ‫ َ٘ َزا‬ِٟ‫ف‬َٚ ًُ ‫َٓ ِِ ْٓ لَ ْج‬١ِّ ٍِ‫ْاٌ ُّ ْغ‬ َّ ِ‫ا ث‬ُّٛ ‫ص‬ ‫ ُش‬١‫ص‬ ِ ٌَّٕ‫ِٔ ْؼ َُ ا‬َٚ ٌَٝ َّْٛ ٌ‫ْ ال ُو ُْ فَِٕ ْؼ َُ ْا‬َِٛ َُٛ ٘ ِ‫بَّلل‬ ِ َ‫ا ْػز‬َٚ "Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. agama orang tuamu Ibrahim. Dia telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu , dan dalam ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sholat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong." (QS. Al-Hajj : 78) ْ ٔ‫إِ َّْ اٌصَّالحَ َوب‬ ‫رًب‬ُٛ‫ْ ل‬َِٛ ‫َٓ ِوزَبثًب‬١ِِِٕ ‫ ْاٌ ُّ ْؤ‬ٍَٝ‫َذ َػ‬ "...Sesungguhnya sholat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orangorang yang beriman." (QS. An-Nisa : 103) َٓ١‫ا َِ َغ اٌشَّا ِو ِؼ‬ُٛ‫اسْ َوؼ‬َٚ َ‫ا اٌ َّض َوبح‬ُٛ‫ َءار‬َٚ َ‫ا اٌصَّالح‬ُّٛ ١ِ‫أَل‬َٚ "Dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku".(QS. Al-Baqarah : 43) Dan masih banyak lagi perintah di dalam kitabullah yang mewajibkan umat Islam melalukan sholat. Paling tidak tercatat ada 12 perintah dalam Al-Quran lafaz 4

“aqiimush-sholata” (‫ا اٌصالح‬ّٛ١‫ )أل‬yang bermakna "dirikanlah sholat" dengan fi`il Amr (kata perintah) dengan perintah kepada orang banyak (khithabul jam`i). Yaitu pada surat : 

Al-Baqarah ayat 43, 83 dan110



Surat An-Nisa ayat 177 dan 103



Surat Al-An`am ayat 72



Surat Yunus ayat 87



Surat Al-Hajj : 78



Surat An-Nuur ayat 56



Surat Luqman ayat 31



Surat Al-Mujadalah ayat 13



Surat Al-Muzzammil ayat 20.

Ada 5 perintah sholat dengan lafaz "aqimish-sholata" (‫ )ألُ اٌصالح‬yang bermakna "dirikanlah sholat" dengan khithab hanya kepada satu orang. Yaitu pada :  Surat Huud ayat 114  Surat Al-Isra` ayat 78  Surat Thaha ayat 14  Surat Al-Ankabut ayat 45  Surat Luqman ayat 17. 2. Dalil dari As-Sunnah

Di dalam sunnah Raulullah shallallahu „alaihi wasallam, ada banyak sekali perintah sholat sebagai dalil yang kuat dan qath`i tentang kewajiban sholat. Diantaranya adalah hadits-hadits berikut ini : ُ ‫ ع َُ ِِ ْػ‬: ‫بي‬ َ َ‫ُ َّب ل‬ْٕٙ ‫ َّللاُ َػ‬َٟ ‫ظ‬ ِ‫ْ َي َّللا‬ٛ‫ذ َس ُع‬ ِ ‫ة َس‬ ِ ‫ َػ ْج ِذاٌشَّؽْ ََّٓ َػ ْج ِذَّللا ْث ِٓ ُػ َّ َش ْث ِٓ اٌخَطَّب‬ِٟ‫ ا ِإل ْعالَ َُ ػ َْٓ أَث‬َٟ ُِٕ‫ ث‬: ‫ْ ُي‬ُٛ‫ل‬ َّ ٌ‫إِلَ ِبَ ا‬َٚ ، ِ‫ْ ُي َّللا‬ُٛ‫أَ َّْ ُِ َؾ َّّذًا َسع‬َٚ ، ُ‫َب َد ِح أَ ْْ الَ إٌََِٗ إِالَّ َّللا‬ٙ‫ َش‬: ‫ظ‬ ،‫ذ‬ ِ ١ْ َ‫ َؽ ِّظ اٌج‬َٚ ، ‫زَب ِء اٌ َّض َوب ِح‬٠ْ ِ‫إ‬ِٚ ، ‫صالَ ِح‬ ٍ َّ ‫ خ‬ٍَٝ‫َػ‬ ٍُ‫ ِغ‬ٚ ٞ‫اٖ اٌجخبس‬ٚ‫عبَْ س‬ َ َِ ‫ْ َِ َس‬ٛ‫ص‬ َ َٚ Dari Ibni Umar radhiyallahu „anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam bersabda,"Islam didirikan di atas lima hal. Sahadat bahwa tiada tuhan kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, penegakan sholat, pelaksanaan zakat, puasa di bulan Ramadhan dan haji ke Baitullah bila mampu". (HR. Bukhari dan Muslim)

5

.

1:

333 Dari „Abdullah bin „Umar, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Islam itu terdiri atas lima rukun. Mengakui bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan sesungguhnya Muhammat itu adalah utusan Allah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, hajji ke Baitullah dan puasa Ramadlan. [HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 333] . 043 1 Dari Jabir, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “(Yang membedakan) antara seseorang dan kekufuran adalah meninggalkan sholat”. [HR. Jama‟ah, kecuali Bukhari dan Nasai, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 340]

.

. .

1: 343

Dari „Abdullah bin „Amr bin Al-‟Ash, dari Nabi SAW bahwa beliau pada suatu hari menerangkan tentang sholat, lalu beliau bersabda, “Barangsiapa memeliharanya, maka sholat itu baginya sebagai cahaya, bukti dan penyelamat pada hari qiyamat. Dan barangsiapa tidak memeliharanya, maka sholat itu baginya tidak merupakan cahaya, tidak sebagai bukti, dan tidak (pula) sebagai penyelamat. Dan adalah dia pada hari qiyamat bersama-sama Qarun, Fir‟aun, Haaman, dan Ubay bin Khalaf”. [HR. Ahmad, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 343]

. .

1: 345

Dari Abu Hurairah, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya pertama-tama perbuatan manusia yang dihisab pada hari qiyamat, adalah sholat wajib. Maka apabila ia telah menyempurnakannya (maka selesailah persoalannya). Tetapi apabila tidak sempurna sholatnya, dikatakan (kepada malaikat), “Lihatlah dulu, apakah ia pernah mengerjakan sholat sunnah ! Jika ia 6

mengerjakan sholat sunnah, maka kekurangan dalam sholat wajib disempurnakan dengan sholat sunnahnya”. Kemudian semua amal-amal yang wajib diperlakukan seperti itu”. [HR. Khamsah, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 345

Menyuruh anak kecil untuk sholat . .

1: 348

Dari „Amr bin Syu‟aib, dari ayahnya, dari datuknya, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Suruhlah anak-anak kecilmu melakukan sholat pada (usia) tujuh tahun, dan pukullah mereka (bila lalai) atasnya pada (usia) sepuluh tahun, dan pisahkanlah mereka pada tempat-tempat tidur”. [HR. Ahmad dan Abu Dawud, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 348] Keterangan : Hadits tersebut menunjukkan wajibnya bagi orang tua menyuruh (mendidik) anakanaknya untuk melakukan sholat, apabila mereka berusia tujuh tahun. Dan mereka harus dipukul (diberi hukuman yang mendidik, bukan menyiksa) karena meninggalkannya, apabila berusia sepuluh tahun. Dan mereka harus dipisahkan tempat tidurnya. 3. Dalil dari Ijma`

Bahwa seluruh umat Islam sejak zaman nabi shallallahu „alaihi wasallam hingga hari ini telah bersepakat atas adanya kewajiban sholat dalam agama Islam. Lima kali dalam sehari semalam. Dengan adanya dalil dari Quran, sunnah dan ijma` di atas, maka lengkaplah dalil kewajiban sholat bagi seorang muslim. Maka mengingkari kewajiban sholat termasuk keyakianan yang menyimpang dari ajaran Islam, bahkan bisa divonis kafir bila meninggalkan sholat dengan meyakini tidak adanya kewajiban sholat.

C. Sejarah Penetapan Sholat Perintah tentang diwajibkannya mendirikan sholat tidak seperti Allah mewajibkan zakat dan lainnya. Perintah mendirikan sholat yaitu melalui suatu proses yang luar biasa yang dilaksanakan oleh Rasulullah SAW yaitu melalui Isra dan Mi‟raj, dimana proses ini tidak dapat dipahami hanya secara akal melainkan harus secara keimanan sehingga dalam sejarah digambarkan setelahnya Nabi melaksanakan Isra dan Mi‟raj, umat Islam ketika itu terbagi tiga golongan yaitu, yang secara terang 7

– terangan menolak kebenarannya itu, yang setengah – tengahnya dan yang yakin sekali kebenarannya. Dilihat dari prosesnya yang luar biasa maka sholat merupakan kewajiban yang utama, yaitu mengerjakan sholat dapat menentukan amal – amal yang lainnya, dan mendirikan sholat berarti mendirikan agama dan banyak lagi yang lainnya

.

.

433 1 Dari Anas bin Malik RA, ia berkata : Diwajibkan sholat itu pada Nabi SAW pada malam Isra‟, lima puluh kali. Kemudian dikurangi sehingga menjadi lima kali, kemudian Nabi dipanggil, “Ya Muhammad, sesungguhnya tidak diganti (diubah) ketetapan itu di sisi-Ku. Dan sesungguhnya lima kali itu sama dengan lima puluh kali”. [HR. Ahmad, Nasai dan Tirmidzi. Dan Tirmidzi menshahihkannya, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 334]

D. Sunnah Adapun yang sunah dilakukan ketika seseorang tersebut hendak melakukan atau melaksanakan sholat ialah ketika waktu sampai pada waktunya yang biasanya di tandai dengan kumandang adzan, maka seorang hamba wajib melaksanakan shlat tersebut. Adzan memiliki arti ”memberitahukan” yang dimaksud disini ialah ”memberitahukan bahwa waktu sholat telah tiba dengan lafaz yang ditentukan oleh syarat”. Dalam lafaz adzan itu terdapat pengertian yang mengandung beberapa maksud penting, yaitu sebagai akidah, seperti adanya Allah yang Maha Besar bersifat Esa, tidak ada sekutu bagi0Nya; serta menerangkan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan allah yang cerdik dan bijaksana untuk menerima wahyu dari Allah. Sesudah kita bersaksi bahwa tidak ada Allah SWT melainkan Allah dan Nabi Muhammad utusan-Nya, kita diajak menanti perintahnya, yakni mengerjakan sholat, kemudian diajaknya pula pada kemenangan dunia dan akhirat. Akhirnya disudahi dengan kalimat tauhid. Adzan dimaksudkan untuk memberitahukan bahwa waktu sholat telah tiba dan menyerukan untuk melakukan sholat berjamaah. Selain itu untuk mensyiar

8

agama islam di muka umum. Allah telah berfirman dalam surat Al-Jumuah ayat 9 sebagai berikut : ُ‫ش ٌىُ اْ وٕز‬١‫غ رٌىُ خ‬١‫ا اٌج‬ٚ‫رس‬ٚ ‫ روشَّللا‬ٌٝ‫اا‬ٛ‫َ اٌغّؼخ فبعؼ‬ٛ٠ ِٓ ‫ ٌٍصالح‬ٞ‫د‬ٛٔ‫ا ارا‬ِٕٛ‫ٓ ا‬٠‫ب اٌز‬ٙ٠‫ب‬٠ )‫ْ (اٌغّؼخ‬ٍّٛ‫رؼ‬ ”Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sholat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah (sholat) dan tingglkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Al-Jumu‟ah).

E. Kriteria dalam Sholat Sebelum melakukan sholat, tentunya ada beberapa kriteria yang wajib dipenuhi terlebih dahulu. a. Syarat Wajib Sholat Bila semua syarat wajib terpenuhi, maka wajiblah bagi seseorang yang telah memenuhi syarat wajib untuk melakukan ibadah sholat. Sebaliknya, bila salah satu dari syarat wajib itu tidak terpenuhi, maka dia belum diwajibkan untuk melakukan sholat. Adapun yang termasuk dalam syarat wajib sholat adalah hal-hal berikut ini. 1. Beragama Islam Seseorang harus beragama Islam terlebih dahulu agar punya beban kewajiban sholat. Selama seseorang belum menjadi seoarang muslim, maka tidak ada beban kewajiban sholat baginya. Tidak ada konsekuensi hukuman buat non muslim bila tidak mengerjakan sholat di dunia ini. Namun meski demikian, di akhirat nanti dia tetap akan disiksa dan dibakar di neraka. Sedangkan seorang muslim bila tidak sholat, selain disiksa di akhirat, di dunia ini pun harus dijatuhi hukuman oleh pemerintah Islam atau mahkamah syar`iyah. Itulah yang membedakan antara kewajiban sholat seorang muslim dengan non muslim. Namun bila ada seorang kafir yang masuk Islam, tidak ada kewajiban untuk mengqadha` sholat yang selama ini ditinggalkannya. Hal itu berdasarkan firman Allah SWT : ْ ‫ع‬ َٓ١ٌَِّٚ ‫ذ ُعَّٕخُ اال‬ َ َِ ‫ا فَمَ ْذ‬ُٚ‫د‬ُٛ‫َؼ‬٠ ْْ ِ‫إ‬َٚ َ‫ُ ُْ َِب لَ ْذ َعٍَف‬ٌَٙ ْ‫ُ ْغفَش‬٠ ‫ا‬َُٛٙ‫َ ْٕز‬٠ ْْ ِ‫ا إ‬ُٚ‫َٓ َوفَش‬٠‫لًُْ ٌٍَِّ ِز‬ Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu : "Jika mereka berhenti , niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang 9

sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku sunnah orang-orang dahulu ".(QS. Al-Anfal : 38) Dan juga berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam dalam haditsnya : ‫بص‬ ِ ‫ ْث ِٓ ْاٌ َؼ‬ُٚ‫ػَٓ َػ ّْش‬ َّٟ ِ‫ أَ َّْ إٌَّج‬‫اٖ أؽّذ‬ٚ‫َغُتُّ َِب لَ ْجٍَٗ س‬٠ َُ َ‫لَب َي ا ِإل ْعال‬ Dari Amru bin al-Ash radhiyallahu „anhu bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam bersabda,"Keislaman seseorang akan menghapus semua dosa sebelumnya". (HR. Ahmad, At-Tabarany dan Al-Baihaqi). Namun sebaliknya, bila ada seorang muslim murtad dari agama Islam. Lalu masuk lagi ke dalam agama Islam, maka sholat yang pernah ditinggalkannya wajib digantinya dengan qadha`. Sebagai hukuman untuknya dan juga karena kekufurannya sesaat itu tidak lah menggugurkan kewajibannya kepada Allah. Persis seperti hutang seseorang kepada sesama manusia. Tetap wajib dibayarkan meski seseorang murtad dari Islam. Namun menurut pendapat kalangan Al-Hanafiyah, orang yang murtad tidak wajib untuk mengqadha` sholat yang ditinggalkannya, lantaran pada hakikatnya dia adalah seorang non muslim yang tidak wajib sholat. 2. Baligh Bagi anak laki-laki, baligh artinya adalah mereka yang sudah mengalami mimpi basah, sedangkan bagi perempuan, yang disebut baligh adalah mereka yang sudah mengalami masa menstruasi. Sejak kedua saat itulah perintah diwajibkan untuk sholat berlaku, serta segala amal perbuatan mereka dari yang baik hingga yang buruk mulai dihitung secara nafsi-nafsi tidak bergantung lagi pada kedua orang tuanya. Seorang anak kecil yang belum mengalami baligh tidak wajib sholat. Dasarnya adalah sabda Rasululah shallallahu „alaihi wasallam : َّ َ َٟ ‫ظ‬ ِّٟ ِ‫َب ػ َْٓ إٌََّج‬ْٕٙ ‫َّللاُ َػ‬ ِ ‫ػ َْٓ ػَبئِ َشخَ َس‬َٚ  ِٓ ‫ َػ‬َٚ ,َ‫مِع‬١ْ َ‫َ ْغز‬٠ َّٝ‫ َػ ِٓ إٌََّبئِ ُِ َؽز‬:‫ ُسفِ َغ اَ ٌْمٍََ ُُ ػ َْٓ صَالصَ ٍخ‬:‫لَب َي‬ َّ ٌَ‫ا‬ ‫اُٖ أَؽْ َّ ُذ‬َٚ ‫ك َس‬ َ ١ِ‫َف‬٠ َْٚ‫َ ْؼمِ ًَ أ‬٠ َّٝ‫ ِْ َؽز‬ُٕٛ ْ‫ػ َِٓ اَ ٌْ َّغ‬َٚ ‫َ ْىجُ َش‬٠ َّٝ‫ش َؽز‬١ ِ ‫ص ِغ‬ Dari Ali radhiyallahu „anhu dan Umar radhiyallahu „anhu bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam bersabda,"Pena telah diangkat dari tiga orang, dari seorang yang tidur hingga terjaga, dari seorang anak kecil hingga mimpi dan dari seorang gila hingga waras "(HR. Ahmad, Abu Daud, Al-Hakim)

10

Meskipun demikian, seorang anak kecil yang belum baligh tetap dianjurkan untuk diperintahkan mengerjakan sholat ketika berusia 7 tahun. Dan boleh dipukul bila masih belum mau mengerjakannya setelah berusia 10 tahun. Dalilnya adalah hadits berikut ini : َّ ‫ْ ُي‬ُٛ‫بي َسع‬ َّ ٌ‫َبَٔ ُى ُْ ثِب‬١‫ص ْج‬ ٍ ١‫ ث ِْٓ ُش َؼ‬ُٚ‫ػ َْٓ َػ ّْش‬ َٓ١ْ ِٕ‫صالَ ِح ٌِ َغج ِْغ ِع‬ َ َ‫بي ل‬ َ َ‫ ِٗ ػ َْٓ َع ِّذ ِٖ ل‬١ْ ِ‫ت ػ َْٓ أَث‬ ِ‫َّللا‬ ِ ‫ا‬ُٚ‫ُِش‬ َٓ١ْ ِٕ‫َب ٌِ َؼ ْش ِش ِع‬ٙ١ْ ٍَ‫ْ ُ٘ ُْ َػ‬ُٛ‫اظْ ِشث‬َٚ ‫د‬ٚ‫ دا‬ٛ‫أث‬ٚ ‫اٖ أؽّذ‬ٚ‫بعغ س‬ َ َّ ٌ‫ ا‬ٟ‫ف‬ ِ ‫ع‬ ِ ُْ َُٕٙ١ْ َ‫ا ث‬ُٛ‫فَ ِّشل‬َٚ Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu „anhu bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam bersabda,"Perintahkanlah anakmu untuk sholat pada usia 7 tahun dan pukullah pada usia 10 tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka (anak-anak laki dan anak-anak perempuan)".(HR. Ahmad, Abu Daud dan Al-Hakim) Namun perintah ini bukan untuk anak melainkan kepada para orang tua, yakni mereka diwajibkan untuk memerintahkan anaknya sholat pada usia 7 tahun. Sebagaimana firman Allah SWT َٜٛ ‫ ْاٌ َؼبلِجَخُ ٌٍِزَّ ْم‬َٚ َ‫ه ِس ْصلًب َٔؾْ ُٓ َٔشْ ُصلُه‬ َ ٌَُ‫َب ال َٔغْأ‬ٙ١ْ ٍَ‫اصْ طَجِشْ َػ‬َٚ ‫ ْأ ُِشْ أَ ٍَْ٘هَ ثِبٌصَّال ِح‬َٚ "Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan sholat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat itu adalah bagi orang yang bertakwa.".(QS. Thaha : 132) 3. Berakal Orang yang tidak waras seperti gila, ayan dan berpenyakit syaraf tidak wajib mengerjakan sholat karena mereka tidak sadar diri dan tidak mampu berpikir. Maka tidak ada beban kewajiban beribadah atas dirinya. Kewajiban sholat hanya ada pada saat mereka sadar dan waras, dimana terkadang memang seseorang tidak selamanya gila atau hilang akal. Namun begitu ketidaksadaran atas dirinya datang, maka dia tidak wajib mengerjakan sholat. Menurut jumhur ulama, orang yang sempat untuk beberapa saat hilang kewarasannya, begitu sudah kembali ingatannya tidak wajib mengqadha` sholat. Namun hal itu berbeda dengan pendapat kalangan Al-Hanafiyah yang justru mewajibkannya mengqadha` sholat. Sedangkan bila hilang akal dan kesadaran karena seseorang mabuk, maka dia wajib mengqadha` sholatnya, karena orang yang mabuk tetap wajib sholat. Demikian juga hal yang sama berlaku pada orang yang tidur, begitu dia

11

bangun, wajiblah atasnya mengqadha` sholat yang terlewat. Dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam : ٌ َ‫ه ُِزَّف‬ َّٟ ِ‫ه أَ َّْ إٌَّج‬ َ ٌِ‫َب إال َر‬ٌَٙ َ‫َب إ َرا َر َو َشَ٘ب ال َوفَّب َسح‬ٍِّٙ‫ص‬ ٍ ٌِ‫َظ ث ِْٓ َِب‬ َ ُ١ٍْ َ‫صالحً ف‬ َ َٟ ‫ َِ ْٓ َٔ ِغ‬: ‫لَب َي‬ ِ َٔ‫ َػ ْٓ أ‬ِٗ ١ْ ٍَ‫ك َػ‬ Dari Anas bin Malik radhiyallahu „anhu bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam bersabda,"Orang yang lupa sholat hendaklah segera sholat begitu ingat. Tidak ada kaffarah atasnya kecuali hanya melakukan sholat itu saja".(HR. Bukhari dan Muslim) Tiga hal di atas adalah syarat-syarat wajib sholat, dimana bila syarat itu terpenuhi pada diri seseorang, wajiblah atasnya untuk melakukan sholat. b. Syarat Sah Sholat Sebagaimana dijelaskan di atas, syarat sah sholat adalah hal-hal yang harus terpenuhi sebelum seseorang mengerjakan sholat agar sholatnya menjadi sah hukumnya. Diantaranya adalah : 1. Mengetahui Bahwa Waktu Sholat Sudah Masuk Bila seseorang melakukan sholat tanpa pernah tahu apakah waktunya sudah masuk atau belum, maka sholatnya itu tidak memenuhi syarat. Sebab mengetahui dengan pasti bahwa waktu sholat sudah masuk adalah bagian dari syarat sah sholat. Bahkan meski pun ternyata sudah masuk waktunya, namun sholatnya itu tidak sah lantara pada saat sholat dia tidak tahu apakah sudah masuk waktunya atau belum. Tidak ada bedanya, apakah seseorang mengetahui masuknya sholat dengan yakin atau sekedar berijtihad dengan dasar yang kuat dan bisa diterima. Dasar keharusan adanya syarat ini adalah firman Allah SWT : ْ ٔ‫إِ َّْ اٌصَّالحَ َوب‬ ‫رًب‬ُٛ‫ْ ل‬َِٛ ‫َٓ ِوزَبثًب‬١ِِِٕ ‫ ْاٌ ُّ ْؤ‬ٍَٝ‫َذ َػ‬ "...Sesungguhnya sholat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman." (QS. An-Nisa : 103) 2. Suci dari Hadats Besar dan Kecil Hadats besar adalah haidh, nifas dan janabah. Dan untuk mengangkat / menghilangkan hadats besar harus dengan mandi janabah. Sedangkan hadats kecil adalah kondisi dimana seseorang tidak punya wudhu atau batal dari wudhu`nya. Dan untuk mengangkat hadats kecil ini bisa dilakukan dengan wudhu` atau bertayammum. Allah SWT berfirman :

12

ُْ ‫ ِع ُى‬ٚ‫ا ثِ ُش ُء‬ُٛ‫ا ِْ َغؾ‬َٚ ‫ك‬ ِ ِ‫ ْاٌ َّ َشاف‬ٌَِٝ‫َ ُى ُْ إ‬٠‫ ِذ‬٠ْ َ‫أ‬َٚ ُْ ‫َ٘ ُى‬ُٛ‫ع‬ُٚ ‫ا‬ٍُٛ‫ اٌصَّال ِح فَب ْغ ِغ‬ٌَِٝ‫ا إِ َرا لُ ّْزُ ُْ إ‬َُِٕٛ ‫َٓ َءا‬٠‫َب اٌَّ ِز‬ُّٙ٠َ‫َبأ‬٠ َِِٓ ُْ ‫ْ َعب َء أَ َؽ ٌذ ِِ ْٕ ُى‬َٚ‫ َعفَ ٍش أ‬ٍَٝ‫ْ َػ‬َٚ‫ أ‬ٝ‫ظ‬ َ ْ‫إِ ْْ ُو ْٕزُ ُْ َِش‬َٚ ‫ا‬ُٚ‫َّش‬َّٙ‫إِ ْْ ُو ْٕزُ ُْ ُعُٕجًب فَبغ‬َٚ ِٓ ١ْ َ‫ ْاٌ َى ْؼج‬ٌَِٝ‫أَسْ ُعٍَ ُى ُْ إ‬َٚ َّ ‫ ُذ‬٠‫ ُِش‬٠ ‫ ُى ُْ ِِ ُْٕٗ َِب‬٠‫ ِذ‬٠ْ َ‫أ‬َٚ ُْ ‫ ِ٘ ُى‬ُٛ‫ع‬ُٛ ِ‫ا ث‬ُٛ‫ِّجًب فَب ِْ َغؾ‬١َ‫ذًا غ‬١‫ص ِؼ‬ ُ‫َّللا‬ َ ‫ا‬ُّٛ َّّ َ١َ‫ا َِب ًء فَز‬ُٚ‫ْ ال َِ ْغزُ ُُ إٌِّ َغب َء فٍََ ُْ رَ ِغذ‬َٚ‫ْاٌغَبئِ ِػ أ‬ َُْٚ‫ ُى ُْ ٌَ َؼٍَّ ُى ُْ رَ ْش ُىش‬١ْ ٍَ‫ُزِ َُّ ِٔ ْؼ َّزَُٗ َػ‬١ٌَِٚ ُْ ‫ َِّش ُو‬َٙ‫ُط‬١ٌِ ‫ ُذ‬٠‫ ُِش‬٠ ْٓ ‫ٌَ ِى‬َٛ ّْ ‫ِّ َش ُو‬َٙ‫ُط‬١ٌِ ‫ ُذ‬٠‫ ُِش‬٠ ْٓ ‫ٌَ ِى‬َٚ ‫ط‬ ٍ ‫ ُى ُْ ِِ ْٓ َؽ َش‬١ْ ٍَ‫َغْ َؼ ًَ َػ‬١ٌِ Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan sholat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik ; sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni'mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.. (QS. Al-Maidah : 6) Selain itu ada hadits Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam berikut ini : ‫ْ ٍس‬َُٛٙ‫ ِْش غ‬١‫صالَحً ثِ َغ‬ َ ‫َ ْمجَ ًُ َّللا‬٠ َ‫ ال‬: ‫ َي َّللا لب َ َي‬ُٛ‫َػ ِٓ اث ِٓ ُػ َّ َش أَ َّْ َسع‬ Dari Ibnu Umar radhiyallahu „anhu bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam bersabda,"Allah tidak menerima sholat tanpa thaharah".(HR. Jamaah kecuali Bukhari) ‫ظأ‬ ٍ ‫اِش ٍء ُِؾْ ِذ‬ َ َٛ َ‫َز‬٠ َّٝ‫س َؽز‬ َ ‫َ ْمجَ ًُ َّللا‬٠ َ‫ ال‬: ‫ي َّللا لَبي‬ُٛ‫ َشحَ أَ َّْ َسع‬٠ْ ‫ ٘ َُش‬ٟ‫ث‬ ِ ‫صالَح‬ ِ َ‫ػ َْٓ أ‬ Dari Abu Hurairah radhiyallahu „anhu bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam bersabda,"Allah tidak menerima sholat seorang kamu bila berhadats sampai dia berwudhu`"(HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Tirmizy). 3. Suci Badan, Pakaian dan Tempat Sholat Dari Najis Tidak sah seseorang sholat dalam keadaan badannya terkena najis, atau pakaiannya atau tempat sholatnya. Sebelum berwudhu, wajiblah atasnya untuk menghilangkan najis dan mencucinya hingga suci. Setelah barulah berwudhu` untuk mengangkat hadats dan mulai sholat. Dalil keharusan Sucinya badan dari najis adalah "Bila kamu mendapat haidh, maka tinggalkanlah sholat. Dan bila telah usai haidh, maka cucilah darah dan sholatlah".(HR. Bukhari dan Muslim). Dalil keharusan sucinya pakaian dari najis adalah firman Allah SWT : ْ‫ِّش‬َٙ‫َبثَهَ فَط‬١ِ‫ص‬َٚ "Dan pakaianmu, bersihkanlah".(QS. Al-Muddatstsir : 4) 13

Ibnu Sirin mengatakan bahwa makna ayat ini adalah perintah untuk mencuci pakaian dengan air. Dalil keharusan sucinya tempat sholat dari najis Hadits yang menceritakan seorang arab badawi yang kencing di dalam masjid. Oleh Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam diperintahkan untuk menyiraminya dengan seember air. "Siramilah pada bekas kencingnya dengan seember air".(HR.) 4. Menutup Aurat Tidak sah seseorang melakukan sholat bila auratnya terbuka, meski pun dia sholat sendirian jauh dari penglihatan orang lain. Atau sholat di tempat yang gelap tidak ada sinar sedikitpun. Dalil atas kewajiban menutup aurat pada saat melakukan sholat adalah firman Allah SWT berikut ini : َٓ١ِ‫ْشف‬ ِ ‫ُ ِؾتُّ ْاٌ ُّغ‬٠ ‫ا إَُِّٔٗ ال‬ُٛ‫ْشف‬ ِ ‫ال رُغ‬َٚ ‫ا‬ُٛ‫ا ْش َشث‬َٚ ‫ا‬ٍُٛ‫ ُو‬َٚ ‫َٕزَ ُى ُْ ِػ ْٕ َذ ُو ًِّ َِغ ِْغ ٍذ‬٠‫ا ِص‬ٚ‫ َءا َد ََ ُخ ُز‬َِٟٕ‫َبث‬٠ Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap mesjid , makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.".(QS. Al-A`raf : 31) Ibnu Abbas radhiyallahu „anhu berkata bahwa yang dimaksud dengan perhiasan dalam ayat ini maksudnya adalah pakaian yang menutup aurat. Selain itu ada hadits nabi yang menegaskan kewajiban wanita memakai khimar pada saat sholat. َّٟ ِ‫ػ َْٓ ػَبئِ َشخَ أَ َّْ إٌَّج‬ٟ‫اٖ اٌخّغخ إال إٌغبئ‬ٚ‫بس س‬ َ ‫َ ْمجَ ًُ َّللا‬٠ َ‫لَب َي ال‬ ٍ َّ ‫ط إِالَّ ثِ ِخ‬ ٍ ِ‫صالَحَ َؽبئ‬ Dari Aisah radhiyallahu „anhu bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam bersabda,"Tidak sah sholat seorang wanita yang sudah mendapat haidh kecuali dengan memakai khimar.(HR. Al-Khamsah kecuali An-Nasai). Khimar adalah kerudung yang menutup kepala seorang wanita. Dari Aisah radhiyallahu „anhu bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam bersabda,"Wahai Asma`, bila seorang wanita sudah mendapat haidh maka dia tidak boleh terlihat kecuali ini dan ini". Lalu beliau shallallahu „alaihi wasallam menunjuk kepada wajah dan kedua tapak tangannya. (HR. Abu Daud - hadits mursal).

14

Kewajiban menutup aurat ini berlaku bagi setiap wanita yang sudah haidh baik di dalam sholat maupun di luar sholat. Kecuali di dalam rumahnya yang terlinding dari penglihatan laki-laki yang bukan mahramnya. 5. Menghadap ke Kiblat Tidak sah sebuah ibadah sholat manakala tidak dilakukan dengan menghadap ke kiblat. Dalilnya adalah firman Allah SWT : ْ ‫َ٘ ُى ُْ ش‬ُٛ‫ع‬ُٚ ‫ا‬ٌَُّٛٛ َ‫ْش َِب ُو ْٕزُ ُْ ف‬ ْ ‫هش‬ ُ ١‫ َؽ‬َٚ َ‫َط َش ْاٌ َّ ْغ ِغ ِذ ْاٌ َؾ َش ِا‬ ُ ١‫ ِِ ْٓ َؽ‬َٚ َْٛ‫ ُى‬٠َ ‫َط َشُٖ ٌِئَال‬ َ َٙ ْ‫ع‬َٚ ‫ ِّي‬َٛ َ‫ْش َخ َشعْ ذَ ف‬ ْ َٚ ُْ ُ٘ ْٛ‫ُ ُْ فَال ر َْخ َش‬ْٕٙ ِِ ‫ا‬ُّٛ ٍََ‫َٓ ظ‬٠‫ ُى ُْ ُؽ َّغخٌ إِال اٌَّ ِز‬١ْ ٍَ‫بط َػ‬ َْٚ‫زَ ُذ‬ْٙ َ‫ٌَ َؼٍَّ ُى ُْ ر‬َٚ ُْ ‫ ُى‬١ْ ٍَ‫ َػ‬ِٟ‫ ِِلُ ِر َُّ ِٔ ْؼ َّز‬َٚ ِٟٔ ْٛ‫اخ َش‬ ِ ٌٍَِّٕ "Dan dari mana saja kamu, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku . Dan agar Ku-sempurnakan ni'mat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk.(QS. Al-Baqarah : 150) c. Hal-hal Yang Membatalkan Sholat Di antara ha-hal yang membatalkan sholat sebagaimana yang telah dijabarkan oleh para fuqaha adalah sebagai berikut : 1. Berbicara Dari Zaid bin Al-Arqam ra berkata,"Dahulu kami bercakap-capak pada saat sholat. Seseorang ngobrol dengan temannya di dalam sholat. Yang lain berbicara dengan yang disampingnya. Hingga turunlah firman Allah SWT "Peliharalah semua sholat, dan sholat wusthaa . Berdirilah untuk Allah dengan khusyu". Maka kami diperintahkan untuk diam dan dilarang berbicara dalam sholat". (HR. Jamaah kecuali Ibnu Majah). 2. Makan dan Minum Makan dan minum di sini adalah ketika sholat, secara sengaja kita memasukkan makanan atau minuman ke mulut kita kemudian menelannya. Adapun setelah wudhu kemudian kita makan dan minum, itu tidak apa-apa. 3. Banyak Gerakan dan Terus Menerus Yang dimaksud adalah gerakan yang banyak dan berulang-ulang terus. Mazhab As-syafi'i memberikan batasan sampai tiga kali gerakan berturutturut sehingga seseorang batal dari sholatnya. Namun bukan berarti setiap ada gerakan langsung membatalkan sholat. Sebab dahulu Rasulullah SAW pernah sholat sambil menggendong anak (cucunya). 15

Rasulullah SAW sholat sambil mengendong Umamah, anak perempuan dari anak perempuannya. Bila beliau SAW sujud, anak itu diletakkannya dan bila berdiri

digendongnya

lagi". (HR.

Bukhari

dan

Muslim)

Bahkan Beliau SAW memerintah orang yang sedang sholat untuk membunuh ular dan kalajengking (al-aswadain). Dan beliau juga pernah melepas sandalnya sambil sholat. Kesemuanya gerakan itu tidak termasuk yang membatalkan sholat. 4. Tidak Menghadap Kiblat Bila seserang di dalam sholatnya melakukan gerakan hingga badannya bergeser arah hingga membelakangi kiblat, maka sholatnya itu batal dengan sendirinya. Hal ini ditandai dengan bergesernya arah dada orang yang sedang sholat itu, menurut kalangan As-Syafi'iyah dan Al-Hanafiyah. Sedangkan menurut Al-Malikiyah, bergesernya seseorang dari menghadap kiblat ditandai oleh posisi kakinya. Sedangkan menurut Al-Hanabilah, ditentukan dari seluruh tubuhnya. Kecuali pada sholat sunnah, dimana menghadap kiblat tidak menjadi syarat sholat. Rasulullah SAW pernah melakukannya di atas kendaraan dan menghadap kemana pun kendaraannya itu mengarah. Namun yang dilakukan hanyalah sholat sunnah, adapun sholat wajib belum pernah diriwayatkan bahwa beliau pernah melakukannya. Sehingga sebagian ulama tidak membenarkan sholat wajib di atas kendaraan yang arahnya tidak menghadap kiblat. 5. Terbuka Aurat Secara Sengaja Bila seseorang yang sedang melakukan sholat tiba-tiba terbuka auratnya, maka sholatnya otomatis menjadi batal. Maksudnya bila terbuka dalam waktu yang lama. Sedangkan bila hanya terbuka sekilas dan langsung ditutup lagi, para ulama mengatakan tidak batal menurut As-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah. Namun Al-Malikiyah mengatakan secepat apapun ditutupnya, kalau sempat terbuka,

maka

sholat

itu

sudah

batal

dengan

sendirinya.

Namun perlu diperhatikan bahwa yang dijadikan sandaran dalam masalah terlihat aurat dalam hal ini adalah bila dilihat dari samping, atau depan atau belakang. Bukan dilihat dari arah bawah seseorang. Sebab bisa saja bila secara sengaja diintip dari arah bawah, seseorang akan terlihat auratnya. Namun hal ini tidak berlaku. 6. Mengalami Hadts Kecil atau Besar 16

Bila seseorang mengalami hadats besar atau kecil, maka batal pula sholatnya. Baik terjadi tanpa sengaja atau secara sadar. Namun harus dibedakan dengan orang yang merasa ragu-ragu dalam berhadats. Para ulama mengatakan bahwa rasa ragu tidak lah membatalkan sholat. Sholat itu baru batal apabila memang ada kepastian telah mendapat hadats. 7. Tersentuh Najis baik pada Badan, Pakaian atau Tempat Sholat Bila seseorang yang sedang sholat terkena benda najis, maka secara langsung sholatnya menjadi batal. Namun yang dijadikan patokan adalah bila najis itu tersentuh tubuhnya atau pakaiannya. Adapun tempat sholat itu sendiri bila mengandung najis, namun tidak sampai tersentuh langsung dengan tubuh atau pakaian, sholatnya masih sah dan bisa diteruskan. Demikian juga bila ada najis yang keluar dari tubuhnya hingga terkena tubuhnya, seperti mulut, hidung, telinga atau lainnya, maka sholatnya batal. Namun bila kadar najisnya hanya sekedar najis yang dimaafkan, yaitu najis-najis kecil ukuran, maka hal itu tidak membatalkan sholat. 8. Tertawa Orang yang tertawa dalam sholatnya, batallah sholatnya itu. Maksudnya adalah tertawa yang sampai mengeluarkan suara. Adapun bila sebatas tersenyum, belumlah sampai batal puasanya. 9. Murtad, Mati, Gila atau Hilang Akal Orang yang sedang melakukan sholat, lalu tiba-tiba murtad, maka batal sholatnya. Demikian juga bila mengalami kematian. Dan orang yang tiba-tiba menjadi gila dan hilang akal saat sedang sholat, maka sholatnya juga batal. 10. Berubah Niat Seseorang yang sedang sholat, lalu tiba-tiba terbetik niat untuk tidak sholat di dalam hatinya, maka saat itu juga sholatnya telah batal. Sebab niatnya telah rusak, meski dia belum melakukan hal-hal yang membatalkan sholatnya. 11. Meninggalkan Salah Satu Rukun Sholat Apabila ada salah satu rukun sholat yang tidak dikerjakan, maka sholat itu menjadi batal dengan sendirinya. Misalnya, seseorang lupa tidak membaca surat Al-Fatihah lalu langsung ruku', maka sholatnya menjadi batal. Kecuali dalam kasus sholat berjamaah dimana memang sudah ditentukan bahwa imam menanggung bacaan fatihah makmum, sehingga seorang yang tertinggal takbiratul ihram dan mendapati imam sudah pada posisi rukuk, 17

dibolehkan langsung ikut ruku' bersama imam dan telah mendapatkan satu rakaat. Demikian pula dalam sholat jahriyah (suara imam dikeraskan), dengan pendapat yang mengataka bahwa bacaan Al-Fatihah imam telah menjadi pengganti bacaan Al-Fatihah buat makmum, maka bila makmum tidak membacanya, tidak membatalkan sholat. 12. Mendahului Imam dalam Sholat Jama'ah Bila seorang makmum melakukan gerakan mendahului gerakan imam, seperti bangun dari sujud lebih dulu dari imam, maka batal-lah sholatnya. Namun bila hal itu terjadi tanpa sengaja, maka tidak termasuk yang membatalkan sholat. AS-Syafi'iyah mengatakan bahwa batasan batalnya sholat adalah bila mendahului imam sampai dua gerakan yang merupakan rukun dalam sholat. Hal yang sama juga berlaku bila tertinggal dua rukun dari gerakan imam. 13. Terdapatnya Air bagi Orang yang Sholatnya dengan Tayammum Seseorang yang bertayammum sebelum sholat, lalu ketika sholat tiba-tiba terdapat air yang bisa dijangkaunya dan cukup untuk digunakan berwudhu', maka sholatnya batal. Dia harus berwudhu' saat itu dan mengulangi lagi sholatnya. 14. Mengucapkan Salam Secara Sengaja Bila seseorang mengucapkan salam secara sengaja dan sadar, maka sholatnya batal. Dasarnya adalah hadits Nabi SAW yang menyatakan bahwa salam adalah hal yang mengakhiri sholat. Kecuali lafadz salam di dalam bacaan sholat, seperti dalam bacaa tahiyat.

F. Struktur Sholat Telah jelas pengertian dan dalil wajib mengenai sholat dalam Al-Quran dan Hadist. Mengingatkan kembali, bahwa pegangan hukum utama kita adalah Al-Quran dan Hadist. Nabi SAW pernah bersabda ٍٝ‫ اص‬ٝٔ‫ا‬ّٛ‫ز‬٠‫اوّبسا‬ٍٛ‫ص‬ “Shalatlah sebagaimana kamu melihat aku shalat“. Nabi Muhammad SAW begitu khawatir apabila umatnya nanti tidak sholat sebagaimana dengan apa yang dilakukannya. Kita mengenal bid‟ah, yaitu sesuatu yang diperbaharui. Nabi khawatir jika umatnya melakukan bid‟ah dalam ibadah, 18

terutama dalam sholat. Mengapa? Karena sholat merupakan amalan pertama yang nantinya di hisab di hari kiamat nanti. Untuk itu, Nabi perintah supaya umatnya sholat dengan benar, dan benar ini adalah sesuai dengan apa yang Nabi lakukan karena semua yang Nabi lakukan dalam ibadah merupakan wahyu atau petunjuk dari Allah SWT. Agar tingkat kekhawatiran Rasulullah SAW tidak menjadi kenyataan, dibawah ini diterangkan bagaimana shalat pernah dilakukan beliau secaa utuh dan bernilai bagi kehidupan. Shalat berbentuk struktural, yaitu shalat wajib yang dilakukan lima kali sehari semalam, yaitu subuh, dhuhur, ashar, maghrib dan isya‟ yang dimulai dari takbir dan diakhiri dengan

salam.

Adapun

di

luar

itu

bersifat

sunnah,

baik

yang muakkat maupun yang sunnah biasa. Pembahasan disini dikhususkan pada masalah shalat wajib, dan dampak siklus rutinitas sehari-hari, sehingga terbentuk kehidupan manusia proaktif dan berkembang secara dinamis menuju kehidupan yag lebih baik. Shalat struktural merupakan bentuk shalat vertikal, yaitu hablum minallah (hubungan manusia dengan Tuhan Allah swt). Sedangkan shalat struktural ada tiga pokok utama sebagai satu paket yang harus dilakukan secara utuh, yaitu wudhu, shalat dan do‟a.

1. Wudhu Secara bahasa, wudhu berasal “al wadaa‟ah”, yaitu kebersihan dan kesegaran. Secara istilah, wudhu adalah memakai air untuk anggota tertentu (wajah, kedua tangan, kepala dan kedua kaki) menghilangkan apa yang menghalangi untuk sholat dan selainnya. Firman Allah SWT dalam Al-Qur‟an surat Al-Maidah ayat 6

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki” Selain itu, Sabda Nabi yang dituangkan dalam Shahih Bukhari : 135 dan Shahih Muslim : 225 “Tidak akan diterima shalat seseorang yang berhadas sehingga dia berwudhu”. 19

Sifat wudhu yang lengkap atau sempurna :

“Humran budak Utsman, telah menceritakan kepadanya, bahwa Utsman bin Affan meminta air untuk berwudlu, kemudian dia membasuh dua tangan sebanyak tiga kali, kemudian berkumur-kumur serta memasuk dan mengeluarkan air dari hidung. Kemudian ia membasuh muka sebanyak tiga kali dan membasuh tangan kanannya hingga ke siku sebanyak tiga kali. Selepas itu, ia membasuh tangan kirinya sama seperti beliau membasuh tangan kanan, kemudian mengusap kepalanya dan membasuh kaki kanan hingga ke mata kaki sebanyak tiga kali. Selepas itu, ia membasuh kaki kiri, sama seperti membasuh kaki kanannya. Kemudian Utsman berkata, „Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam berwudlu seperti cara aku berwudlu.‟ Kemudian dia berkata lagi, „Aku juga telah mendengar beliau shallallahu „alaihi wasallam bersabda “Barangsiapa mengambil wudlu seperti cara aku berwudlu kemudian dia menunaikan shalat dua rakaat dan tidak berkata-kata antara wudlu dan shalat, maka Allah akan mengampunkan dosa-dosanya yang telah lalu‟.” Ibnu Syihab berkata, “Ulamaulama kami berkata, „Wudlu ini adalah wudlu yang paling sempurnya yang dilakukan oleh seseorang untuk melakukan shalat.” (Shahih Bukhari 158 dan Shahih Muslim 226) 2. Rukun Sholat Rukun adalah pondasi atau tiang pada suatu banguna. Bila salah satu rukunnya rusak atau tidak ada, maka bangunan itu akan roboh. Bila salah satu rukun shalat tidak dilakukan atau tidak sah dilakukan, maka keseluruhan rangkaian ibadah shalat itu pun menjadi tidak sah juga. Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa rukun adalah perbuatan yang hukumnya wajib dilakukan dan menjadi bagian utuh dari rangkaian ibadah. Sedangkan syarat adalah gerakan ibadah yang wajib dilakukan namun bukan bagian dari rangkaian gerakan ibadah.

20

Para ulama mazhab yang paling masyhur berbeda-beda pendapatnya ketika menetapkan mana yang menjadi bagian dari rukun shalat. Kalangan mazhab Al-Hanafiyah mengatakan bahwa jumlah rukun shalat hanya ada 6 saja. Sedangkan Al-Malikiyah menyebutkan bahwa rukun shalat ada 14 perkara. As-Syafi`iyah menyebutkan 13 rukun shalat dan Al-Hanabilah menyebutkan 14 rukun. Ada 2 hal yang bukan merupakan rukun sholat, tetapi merupakan bagian dari norma sholat itu sendiri, yaitu 1. Menghadap Ka’bah Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam bila berdiri untuk sholat fardhu atau sholat sunnah, beliau menghadap Ka‟bah. Beliau memerintahkan berbuat demikian sebagaimana sabdanya kepada orang yang sholatnya salah: “Bila engkau berdiri untuk sholat, sempurnakanlah wudhu‟mu, kemudian menghadaplah

ke

kiblat,

lalu

bertakbirlah.”

(HR. Bukhari, Muslim dan Siraj). 2. Menghadap Sutrah Sutrah (pembatas yang berada di depan orang sholat) dalam sholat menjadi keharusan imam dan orang yang sholat sendirian, sekalipun di masjid besar, demikian pendapat Ibnu Hani‟ dalam Kitab Masa‟il, dari Imam Ahmad.Beliau mengatakan, “Pada suatu hari saya sholat tanpa memasang sutrah di depan saya, padahal saya melakukan sholat di dalam masjid kami, Imam Ahmad melihat kejadian ini, lalu berkata kepada saya, „Pasanglah sesuatu sebagai sutrahmu!‟ Kemudian aku memasang orang untuk menjadi sutrah.”Syaikh Al Albani mengatakan, “Kejadian ini merupakan isyarat dari Imam Ahmad bahwa orang yang sholat di masjid besar atau masjid kecil tetap berkewajiban memasang sutrah di depannya.”Nabi shallallahu „alaihi wasallam bersabda “Janganlah kamu sholat tanpa menghadap sutrah dan janganlah engkau membiarkan seseorang lewat di hadapan kamu (tanpa engkau cegah). Jika dia terus memaksa lewat di depanmu, bunuhlah dia karena dia ditemani oleh setan.” (HR. Ibnu Khuzaimah dengan sanad yang jayyid (baik)). Adapun yang dapat dijadikan sutrah antara lain: tiang masjid, tombak yang ditancapkan ke tanah, hewan tunggangan, pelana, tiang setinggi pelana, pohon,

21

tempat tidur, dinding dan lain-lain yang semisalnya, sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam. Di bawah ini adalah rukun sholat 1. Niat Niat berarti menyengaja untuk sholat, menghambakan diri kepada Allah Ta‟ala semata, serta menguatkannya dalam hati.Nabi shallallahu „alaihi wasallam bersabda: Niat tidak dilafadzkan Dan tidaklah disebutkan dari Nabi shallallahu „alaihi wasallam dan tidak pula dari salah seorang sahabatnya bahwa niat itu dilafadzkan. Abu Dawud bertanya kepada Imam Ahmad. Dia berkata, “Apakah orang sholat mengatakan sesuatu sebelum dia takbir?” Imam Ahmad menjawab, “Tidak.” (Masaail al Imam Ahmad hal 31 dan Majmuu‟ al Fataawaa XXII/28). AsSuyuthi berkata, “Yang termasuk perbuatan bid‟ah adalah was-was (selalu ragu) sewaktu berniat sholat. Hal itu tidak pernah diperbuat oleh Nabi shallallahu „alaihi wasallam maupun para shahabat beliau. Mereka dulu tidak pernah melafadzkan niat sholat sedikitpun selain hanya lafadz takbir.” Asy Syafi‟i berkata, “Was-was dalam niat sholat dan dalam thaharah termasuk kebodohan terhadap syariat atau membingungkan akal.” (Lihat al Amr bi al Itbaa‟ wa al Nahy „an al Ibtidaa‟). 2. Takbiratul Ihram Takbiratul Ihram maknanya adalah ucapan takbir yang menandakan dimulainya pengharaman. Yaitu mengharamkan segala sesuatu yang tadinya halal menjadi tidak halal atau tidak boleh dikerjakan di dalam shalat. Seperti makan, minum, berbicara dan sebagainya. Frman Allah SWT : ْ‫ه فَ َىجِّش‬ َ َّ‫ َسث‬َٚ "dan Tuhanmu agungkanlah! (Bertakbirlah untuknya)" (QS. AlMuddatstsir : 3) Juga ada dalil dari hadits Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam : ‫ ُس‬َُّٛٙ‫ ِِ ْفزَب ُػ اٌصَّال ِح اٌط‬: ‫ْ ُي َّللا‬ُٛ‫ لَب َي لَب َي َسع‬ٍّٟ ٍِ‫اُٖ ػ َْٓ َػ‬َٚ ‫ ُُ َس‬١ٍِ‫َب اٌزَّ ْغ‬ٍُٙ١ٍِ ْ‫رَؾ‬َٚ ‫ ُش‬١ِ‫َب اٌزَّ ْىج‬ُّٙ ٠‫رَؾْ ِش‬َٚ ُ ‫ ْاٌخَ ّْ َغخ‬ّٟ ِ‫إال إٌَّ َغبئ‬ 22

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu „anhu bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam bersabda,"Kunci shalat itu adalah kesucian (thahur) dan yang mengharamkannya (dari segala hal di luar shalat) adalah takbir". (HR. Khamsah kecuali An-Nasai) Lafaz takbiratul-ihram adalah mengucapkan lafadz Allahu Akbar, artinya Allah Maha Besar. Lafaz ini diucapkan ketika semua syarat wajib dan syarat sah shalat terpenuhi. Yaitu sudah menghadap ke kiblat dalam keadaan suci badan, pakaian dan tempat dari najis dan hadats. Begitu juga sudah menutup aurat, tahu bahwa waktu shalat sudah masuk dan lainnya. Jumhur ulama mengharamkan makmum memulai takbir permulaan shalat ini kecuali bila imam sudah selesai bertakbir. Dengan dasar berikut ini : ِٗ ١ْ ٍَ‫ا َػ‬ُٛ‫ ُْؤرَ َُّ ثِ ِٗ فَالَ ر َْخزٍَِف‬١ٌِ َُ ‫إَِّٔ َّب ُع ِؼ ًَ ا ِإل َِب‬: ‫ْ َي َّللاِ لَب َي‬ُٛ‫ َشحَ أَ َّْ َسع‬٠ْ ‫ ُ٘ َش‬ِٟ‫اٖ ػ َْٓ أَث‬ٚ‫ا س‬ُٚ‫فَئ ِ َرا َوجَّ َش فَ َىجِّش‬ ْ‫خب‬١‫اٌش‬ Imam itu dijadikan untuk diikuti, maka jangan berbeda dengannya. Bila dia bertakbir maka bertakbirlah (HR. Muttafaq Alaihi) Sedangkan kalangan Al-Hanafiyah membolehkan makmum bertakbir bersama-sama dengan imam 3. Berdiri Berdiri adalah rukun shalat dengan dalil berdasarkan firman Allah SWT : ْ ُِ ُٛ‫ل‬َٚ َٓ١ِ‫ا ِ َّّللِ لَبِٔز‬ٛ "...Berdirilah untuk Allah dengan khusyu'." (QS. Al-Baqarah : 238) Juga ada hadits nabawi yang mengharuskan berdiri untuk shalat َّٟ ِ‫ ٍْٓ أََُّٔٗ َعأ َ َي إٌَّج‬١‫ُص‬ َ ‫ ػ َْٓ ِػ ّْ َشاَْ ث ِْٓ ؽ‬‫صالَ ِح‬ َ َْٓ ‫صًِّ لَبئِ ًّب فَئ ِ ْْ ٌَ ُْ رَ ْغزَ ِط ْغ ػ‬ َ ‫بي‬ َ َ‫اٌ َّش ُع ًِ لَب ِػذًا فَم‬ ٞ‫اٖ اٌجخبس‬ٚ‫ت س‬ ٍ ْٕ ‫ َع‬ٍَٝ‫فَمَب ِػذًا فَئ ِ ْْ ٌَ ُْ رَ ْغزَ ِط ْغ فَ َؼ‬ Dari `Imran bin Hushain radhiyallahu „anhu bahwa beliau bertanya kepada Nabi shallallahu „alaihi wasallam tentang shalat seseorang sambil duduk, beliau bersabda,"Shalatlah dengan berdiri, bila tidak sanggup maka sambil duduk dan bila tidak sanggup sambil berbaring".(HR. Bukhari) Hadits ini juga sekaligus menjelaskan bahwa berdiri hanya diwajibkan untuk mereka yang mampu berdiri. Sedangkan orang-orang yang tidak mampu berdiri, tidak wajib berdiri. Misalnya orang yang sedang sakit yang

23

sudah tidak mampu lagi berdiri tegak. Bahkan orang sakit itu bila tidak mampu bergerak sama sekali, cukuplah baginya menganggukkan kepada saja menurut Al-Hanafiyah. Atau dengan mengedipkan mata atau sekedar niat saja seperti pendapat Al-Malikiyah. Bahkan As-Syafi`iyah dan AlHanabilah mengatakan bahwa bisa dengan mengerakkan anggota tubuh itu di dalam hati. Para fuqaha mazhab sepakat mensyaratkan bahwa berdiri yang dimaksud adalah berdiri tegak. Tidak boleh bersandar pada sesuatu seperti tongkat atau tembok, kecuali buat orang yang tidak mampu. Terutama bila tongkat atau temboknya dipisahkan, dia akan terjatuh. Adapun As-Syafi`iyah tidak mengharamkan melainkan hanya memakruhkan saja. Dan Al-Malikiyah hanya mewajibkan berdiri tegak tanpa bersandar kepada benda lain pada saat membaca Al-Fatihah saja. Sedangkan di luar bacaan Al-Fatihah dibolehkan bersandar. 4. Membaca Al-Fatihah Jumhur ulama menyebutkan bahwa membaca surat Al-Fatihah adalah rukun shalat, dimana shalat seseorang tidak sah tanpa membacanya. Dengan dalil kuat dari hadits nabawi : َّ َ ‫ ُي‬ُٛ‫ لَب َي َسع‬: ‫ذ لَب َي‬ ٌ َ‫َ ْم َش ْأ ثِأ ُ َِّ اَ ٌْمُشْ آ ِْ ُِزَّف‬٠ ُْ ٌَ ْٓ َّ ٌِ َ‫صالَح‬ ِٗ ١ْ ٍَ‫ك َػ‬ َ َ‫َّللاِ ال‬ ِ ِِ ‫ػ َْٓ ُػجَب َدحَ ث ِْٓ اٌَصَّب‬َٚ Dari Ubadah bin Shamit ra berkata bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam bersabda,”Tidak sah shalat kecuali dengan membaca ummilquran"(HR. Ibnu Hibban dalam shahihnya) a. Mazhab As-Syafi`i Mazhab As-syafi`iyah mewajibkan makmum dalam shalat jamaah untuk membaca surat Al-Fatihah sendiri meski dalam shalat jahriyah (yang dikeraskan bacaan imamnya). Tidak cukup hanya mendengarkan bacaan imam saja. Kerena itu mereka menyebutkan bahwa ketika imam membaca surat Al-Fatihah, makmum harus mendengarkannya, namun

begitu

selesai

mengucapkan,

masing-masing makmum

membaca sendiri-sendiri surat Al-Fatihah secara sirr (tidak terdengar). Namun dalam pandangan mazhab ini, kewajiban membaca surat AlFatihah gugur dalam kasus seorang makmum yang tertinggal dan mendapati imam sedang ruku`. Maka saat itu yang bersangkutan ikut ruku` bersama imam dan sudah terhitung mendapat satu rakaat. 24

b. Mazhab Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah Mazhab Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah mengatakan bahwa seorang makmum dalam shalat jamaah yang jahriyah (yang bacaan imamnya keras) untuk tidak membaca apapun kecuali mendengarkan bacaan imam. Sebab bacaan imam sudah dianggap menjadi bacaan makmum. c. Mazhab Al-Hanafiyah Sedangkan mazhab Al-Hanafiyah yang mengatakan bahwa Al-Fatihah itu bukan rukun shalat, cukup membaca ayat Al-Quran saja pun sudah boleh. Sebab yang dimaksud dengan `rukun` menurut pandangan mazhab ini adalah semua hal yang wajib dikerjakan baik oleh imam maupun makmum, juga wajib dikerjakan dalam shalat wajib maupun shalat sunnah. Sehingga dalam tolok ukur mereka, membaca surat AlFatihah tidak termasuk rukun shalat, sebab seorang makmum yang tertinggal tidak membaca Al-Fatihah tapi sah shalatnya. Bahkan makmum shalat dimakruhkan untuk membaca Al-Fatihah karena makmum harus mendengarkan saja apa yang diucapkan imam. 5. Ruku` Ruku` adalah gerakan membungkukkan badan dan kepala dengan kedua tangan diluruskan ke lulut kaki. Dengan tidak mengangkat kepala tapi juga tidak menekuknya. Juga dengan meluruskan punggungnya, sehingga bila ada air di punggungnya tidak bergerak karena kelurusan punggungnya. Perintah untuk melakukan rukuk adalah firman Allah SWT َُْٛ‫ َْش ٌَ َؼٍَّ ُى ُْ رُ ْفٍِؾ‬١‫ا ْاٌ َخ‬ٍُٛ‫ا ْف َؼ‬َٚ ُْ ‫ا َسثَّ ُى‬ُٚ‫ا ْػجُذ‬َٚ ‫ا‬ُٚ‫ا ْع ُغذ‬َٚ ‫ا‬ُٛ‫ا اسْ َوؼ‬َُِٕٛ ‫َٓ آ‬٠‫َب اٌَّ ِز‬ُّٙ٠َ‫َب أ‬٠ "Wahai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. (QS. Al-Hajj : 77) Dan juga hadits Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam berikut ini. ْ ٌَ‫ػ َْٓ ػَبئِ َشخَ لَب‬ ِٗ ١ْ َ‫ ِٗ ِِ ْٓ ُس ْوجَز‬٠ْ ‫َ َذ‬٠ َٓ‫زُُٗ إِ َرا َس َو َغ أَ ِْ َى‬٠ْ َ‫ذ َسأ‬ Dari Aisah radhiyallahu „anhu berkata,"Aku melihat beliau shallallahu „alaihi wasallam ketika ruku` meletakkan tangannya pada lututnya." (HR. Muttafaqun Alaihi) Adalah Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam bila ruku` tidak mengangkat kepalanya dan juga tidak menekuknya. Tetapi diantara keduanya". 25

Untuk sahnya gerakan ruku`, posisi seperti ini harus terjadi dalam beberapa saat. Tidak boleh hanya berupa gerakan dari berdiri ke ruku` tapi langsung bangun lagi. Harus ada jeda waktu sejenak untuk berada pada posisi ruku` yang disebut dengan istilah thuma`ninah. Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu „alaihi wasallam berikut ini : ُ ‫ْش‬ ُ ‫ْش‬ َّٟ ‫ لَزَب َدحَ أَ ّْ إٌَِّج‬ٟ‫ث‬ َ ْٓ ِِ ‫ق‬ ِ ٌَّٕ‫ ُء ا‬َٛ ‫لَب َي أَ ْع‬ ِ ‫َغ‬٠ َ‫ف‬١ْ ‫ َو‬َٚ ًَْ ١ِ‫صالَرِ ِٗ ل‬ ِ ‫َغ‬٠ ٞ‫بط َع ِشلَخً اٌ ِّز‬ ِ َ‫ػ َْٓ أ‬ ْٓ ِِ ‫ق‬ ُ‫اٌؾبو‬ٚ ‫اٖ أؽّذ‬ٚ‫َب س‬ٙ‫ْ َػ‬ٛ‫الَ ُخ ُش‬َٚ ‫ْ َدَ٘ب‬ُٛ‫الَ ُعغ‬َٚ ‫َب‬ٙ‫ْ َػ‬ٛ‫ُزِ ُُّ ُس ُو‬٠ َ‫صالَرِ ِٗ؟ لَب َي ال‬ َ Dari Abi Qatadha berkata bahwa Rasululah shallallahu „alaihi wasallam bersabda,"Pencuri yang paling buruk adalah yang mencuri dalam shalatnya". Para shahabat bertanaya,"Ya Rasulallah, bagaimana mencuri dalam shalat?". "Dengan cara tidak menyempurnakan ruku` dan sujudnya". atau beliau bersabda,"Tulang belakangnya tidak sampai lurus ketika ruku` dan sujud". (HR. Ahmad, Al-Hakim, At-Thabarany, Ibnu Khuzaemah, Ibnu Hibban) Para ulama fiqih menyebutkan bahwa perbedaan ruku`nya laki-laki dan wanita adalah pada letak tangannya. Laki-laki melebarkan tangannya atau merenggangkan antara siku dengan perutnya. Sedangkan wanita melakukan sebaliknya, mendekatkan tangannya ke tubuhnya 6. I`tidal I`tidal adalah gerakan bangun dari ruku` dengan berdiri tegap dan merupakan rukun shalat yang harus dikerjakan menurut jumhur ulama. Kecuali pendapat Al-Hanafiyah yang agak tidak kompak sesama mereka. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa i`tidal tidak termasuk rukun shalat, melainkan hanya kewajiban saja. Sebab i`tidal hanyalah konsekuensi dari tuma`ninah. Dasarnya adalah firman Allah SWT yang menyebutkan hanya ruku` dan sujud tanpa menyebutkan i`tidal. "Dan ruku` lah dan sujudlah" (QS. Al-Hajj : 77) Namun sebagian ulama mazhab ini seperti Abu Yusuf dan yang lainnya mengatakan bahwa i`tidal adalah rukun shalat yang tidak boleh ditinggalkan. Menurut mereka, bila seseorang shalat tanpa i`tidal maka shalatnya batal dan tidak sah. 7. Sujud Secara bahasa, sujud berarti

26



al-khudhu` (‫ع‬ٛ‫)اٌخع‬



at-tazallul (ًٌ‫ )اٌزز‬yaitu merendahkan diri badan.



al-mailu (ً١ٌّ‫ )ا‬yaitu mendoncongkan badan ke depan.

Sedangkan secara syar`i, yang dimaksud dengan sujud menurut jumhur ulama adalah meletakkan 7 anggota badan ke tanah, yaitu wajah, kedua telapak tangan, kedua lutut dan ujung kedua tapak kaki. Pensyariatan Sujud Al-Quran Al-Kariem memerintahkan kita untuk melakukan sujud kepada Allah SWT. Dasarnya adalah hadits nabi : َّ َ ‫ ُي‬ُٛ‫ لَب َي َسع‬:‫بي‬ َّ َ َٟ ‫ظ‬ ُ ْ‫َّللاِ أُ ِِش‬ ٍَٝ‫ َػ‬: ٍُ ُ‫ َع ْج َؼ ِخ أَ ْػظ‬ٍَٝ‫د أَ ْْ أَ ْع ُغ َذ َػ‬ َ َ‫ ل‬-‫ُ َّب‬ْٕٙ ‫َّللاُ َػ‬ ِ ‫ َس‬- ‫ط‬ ٍ ‫ػ َْٓ اِ ْث ِٓ َػجَّب‬ ْ َ‫أ‬َٚ , ِٓ ١ْ َ‫اٌشُّ ْوجَز‬َٚ , ِٓ ٠ْ ‫َ َذ‬١ٌ‫ ْا‬َٚ - ِٗ ِ‫ أَ ْٔف‬ٌَِٝ‫َ ِذ ِٖ إ‬١ِ‫َبس ث‬ ٌ َ‫ ِٓ ُِزَّف‬١ْ َِ ‫اف اَ ٌْمَ َذ‬ ِٗ ١ْ ٍَ‫ك َػ‬ َ ‫أَش‬َٚ - ‫َ ِخ‬ٙ‫اَ ٌْ َغ ْج‬ ِ ‫غ َش‬ Dari Ibnu Abbas ra berkata,"Aku diperintahkan untuk sujud di atas 7 anggota. (Yaitu) wajah (dan beliau menunjuk hidungnya), kedua tangan, kedua lutut dan kedua tapak kaki.(HR. Bukhari dan Muslim) Manakah yang lebih dahulu diletakkan, lutut atau tangan? Dalam masalah ini ada dua dalil yang sama-sama kuat namun menunjukkan cara yang berbeda. Sehingga menimbulkan perbedaan pendapat juga di kalangan ulama. Jumhur ulama umumnya mengatakan bahwa yang disunnahkan ketika sujud adalah meletakkan kedua lutut di atas tanah telebih dahulu, baru kemudian kedua tangan lalu wajah. Dan ketika bangun dari sujud, belaku sebaliknya, yang diangkat adalah wajah dulu, kemudian kedua tangan baru terakhir lutut. Dasar dari praktek ini adalah hadits berikut ini. ُ ٠َ‫ َسأ‬: ‫ائًِ ثٓ ؽُغْ ش لَب َي‬َٚ َْٓ ‫ػ‬ ًَ ‫ ِٗ لَ ْج‬٠ْ ‫َ َذ‬٠ ‫ط َسفَ َغ‬ َ ََٙٔ ‫إِ َرا‬َٚ ِٗ ٠ْ ‫َ َذ‬٠ ًَ ‫ ِٗ لَ ْج‬١ْ َ‫ظ َغ ُس ْوجَز‬ َ َٚ ‫ْ َي َّللا إِ َرا َع َغ َذ‬ُٛ‫ْذ َسع‬ ‫اٖ اٌخّغخ إال أؽّذ‬ٚ‫ ِٗ – س‬١ْ َ‫ُس ْوجَز‬ Dari Wail Ibnu Hujr berkata,"Aku melihat Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam bila sujud meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya. Dan bila bangun dari sujud beliau mengangkat tangannya sebelum mengangkat kedua lututnya. (HR. Khamsah kecuali Ahmad) Namun Al-Malikiyah berpendapat sebaliknya, justru yang disunahkan untuk diletakkan terlebih dahulu adalah kedua tangan baru kemudian kedua lututnya. Dalil mereka adalah hadits berikut ini :

27

ْ ‫َ ْجش‬٠ َ‫ي َّللا إِ َرا َع َغ َذ أَ َؽ ُذ ُو ُْ فَال‬ٛ‫ َشحَ لبي لبي سع‬٠ْ ‫ ٘ َُش‬ٟ‫ث‬ ُ ‫َ ْج ُش‬٠ ‫ُن َو َّب‬ ِٗ ٠ْ ‫َ َذ‬٠ ‫ع ْغ‬ َ َ١ٌْ َٚ ‫ ُش‬١ْ ‫ن اٌجَ ِؼ‬ ِ َ‫ػ َْٓ أ‬ ٞ‫اٌزشِز‬ٚ ٟ‫إٌغبئ‬ٚ ‫اٖ أؽّذ‬ٚ‫س‬-ِٗ ١ْ َ‫صُ َّّ ُش ْوجَز‬ Dari Abi Hurariah radhiyallahu „anhu berkata bahwa Rasululah shallallahu „alaihi wasallam bersabda,"Bila kamu sujud janganlah seperti duduknya unta. Hendaklah kamu meletakkan kedua tangan terlebih dahulu baru kedua lutut. (HR. Ahmad, Abu Daud, Nasai dan Tirmizy) Ibnu Sayid An-Nas berkata bahwa hadits yang menyebutkan tentang meletakkan tangan terlebih dahulu lebih kuat. Namun Al-Khattabi mengatakan bahwa hadits ini lebih lemah dari hadits yang sebelumnya. Maka demikianlah para ulama berbeda pendapat tentang mana yang sebaiknya didahulukan ketika melakukan sujud. Dan Imam An-Nawawi berkata bahwa diantara keduanya tidak ada yang lebih rajih (lebih kuat). Artinya, menurut beliau keduanya sama-sama kuat dan sama-sama bisa dilakukan. 8. Duduk Antara Dua Sujud Duduk antara dua sujud adalah rukun menurut jumhur ulama dan hanya merupakan kewajiban menurut Al-Hanafiyah. Posisi duduknya adalah duduk iftirasy, yaitu dengan duduk melipat kaki ke belakang dan bertumpu pada kaki kiri. Maksudnya kaki kiri yang dilipat itu diduduki, sedangkan kaki yang kanan dilipat tidak diduduki namun jari-jarinya ditekuk sehingga menghadap ke kiblat. Posisi kedua tangan diletakkan pada kedua paha dekat dengan lutut dengan menjulurkan jari-jarinya. 9. Duduk Tasyahhud Akhir Duduk tasyahhud akhir merupakan rukun shalat menurut jumhur ulama dan hanya kewajiban menurut Al-Hanafiyah. Sedangkan jumhur ulama menetapkan bahwa posisi duduk untuk tasyahhud akhir adalah duduk tawaruk. Posisinya hampir sama dengan istirasy namun posisi kaki kiri tidak diduduki melainkan dikeluarkan ke arah bawah kaki kanan. Sehingga duduknya di atas tanah tidak lagi di atas lipatan kaki kiri seperti pada iftirasy. Asy-syafi`iyah dan Al-Hanabilah sama-sama berpendapat bahwa untuk duduk tasyahhud akhir, yang disunnahkan adalah duduk tawaruk ini.

28

Menurut Al-Hanafiyah, posisi duduk tasyahhud akhir sama dengan posisi duduk antara dua sujud, yaitu duduk iftirasy. Dalilnya adalah hadits berikut : ُ ِْ ‫ائًِ ث ِٓ ؽغش لَ ِذ‬َٚ َْٓ ‫ػ‬ ٜ‫ُغ َش‬١ٌ‫ط ِسعْ ٍَُٗ ا‬ َ ‫ظ ا ْفزَ َش‬ َ ٍَ‫ْ ِي َّللا فٍََ َّّب َع‬ُٛ‫صالَ ِح َسع‬ َ ٌَِٝ‫َٕخَ ِلَ ْٔظُ َش َّْ إ‬٠ْ ‫ذ اٌ َّ ِذ‬ ٞ‫اٖ اٌزشِز‬ٚ‫ – س‬َّْٕٝ ُ١ٌ‫ت ِسعْ ٍَُٗ ا‬ َ ‫ص‬ َ ََٔٚ ٜ‫ُ ْغ َش‬١ٌ‫ فَ ِخ ِز ِٖ ا‬ٍَٝ‫ َػ‬ٜ‫ُ ْغ َش‬١ٌ‫َ َذُٖ ا‬٠ ‫ظ َغ‬ َ َٚ َٚ Dari Wail Ibnu Hajar,"Aku datang ke Madinah untuk melihat shalat Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam. Ketika beliau duduk (tasyahhud), beliau duduk iftirasy dan meletakkan tangan kirinya di atas paha kirinya dan menashabkan kakinya yang kanan". (HR. Tirimizy) Ada pun Al-Malikiyah sebagaimana diterangkan di dalam kitab AsySyarhu Ash-Shaghir menyunnahkan untuk duduk tawaruk baik pada tasyahhud awal maupun untuk tasyahhud akhir. Dalilnya adalah hadits Nabi : Dari Ibnu Mas`ud berkata bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam duduk di tengah shalat dan akhirnya dengan duduk tawaruk. 10. Salam Pertama Ada dua salam, yaitu salam pertama dan kedua. Salam pertama adalah fardhu shalat menurut para fuqaha, seperti Al-Malikiyah dan AsySyafi‟iyah. Sedangkan salam yang kedua bukan fardhu melainkan sunnah. Namun menurut Al-Hanabilah, kedua salam itu hukumnya fardhu, kecuali pada shalat jenazah, shalat nafilah, sujud tilawah dan sujud syukur. Pada keempat perbuatan itu, yang fardhu hanya salam yang pertama saja Salam merupakan bagian dari fardhu dan rukun shalat yang juga berfungsi sebagai penutup shalat. Dalilnya adalah : ‫ ُس‬َُّٛٙ‫ ِِ ْفزَب ُػ اٌصَّال ِح اٌط‬: ‫ْ ُي َّللا‬ُٛ‫ لَب َي لَب َي َسع‬ٍّٟ ٍِ‫ ُُ ػ َْٓ َػ‬١ٍِ‫َب اٌزَّ ْغ‬ٍُٙ١ٍِ ْ‫رَؾ‬َٚ ‫ ُش‬١ِ‫َب اٌزَّ ْىج‬ُّٙ ٠‫رَؾْ ِش‬َٚ Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu „anhu bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam bersabda,"Kunci shalat itu adalah kesucian (thahur) dan yang mengharamkannya (dari segala hal di luar shalat) adalah takbir". (HR. Muslim) Menurut As-Syafi‟i, minimal lafadz salam itu adalah (ُ‫ى‬١ٍ‫)اٌغالَ ػ‬, cukup sekali saja. Sedangkan menurut Al-Hanabilah, salam itu harus dua kali dengan lafadz (‫سؽّخ َّللا‬ٚ ُ‫ى‬١ٍ‫)اٌغالَ ػ‬, dengan menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak disunnahkan untuk meneruskan lafadz (ٗ‫ثشوبر‬ٚ) menurut AsySyafi‟iyah dan Al-Hanabilah, dengan dalil :

29

َّ ٍَٝ‫ص‬ ُْ ‫ ُى‬١ْ ٍَ‫بس ِٖ اٌ َّغالَ َُ َػ‬ َ َّٟ ِ‫ْ ٍد أَ َّْ إٌَّج‬ُٛ‫َػ ِٓ ا ْث ِٓ َِ ْغؼ‬ ِ ‫َ َغ‬٠ َْٓ ‫ػ‬َٚ ِٗ ِٕ١ْ ِّ َ٠ َْٓ ‫ُ َغٍِّ ُُ ػ‬٠ َْ‫ َعٍَّ َُ َوب‬َٚ ِٗ ٌِ‫آ‬َٚ ِٗ ١ْ ٍَ‫َّللاُ َػ‬ َّ ُ‫ َسؽْ َّخ‬َٚ ُْ ‫ ُى‬١ْ ٍَ‫َّللاِ اٌ َّغالَ َُ َػ‬ َّ ُ‫ َسؽْ َّخ‬َٚ ٞ‫صؾؾٗ اٌزشِز‬ٚ ‫اٖ اٌخّغخ‬ٚ‫ س‬- ِٖ ‫بض َخ ِّذ‬ َ َ١‫ َث‬ٜ‫َ َش‬٠ َّٝ‫َّللاِ َؽز‬ Dari Ibni Mas‟ud radhiyallahu „anhu bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam memberi salam ke kanan dan ke kiri : Assalamu „alaikum warahmatullah Assalamu „alaikum warahmatullah, hingga nampak pipinya yang putih. (HR. Khamsah) Selain sebagai penutup shalat, salam ini juga merupakan doa yang disampaikan kepada orang-orang yang ada di sebelah kanan dan kirinya, bila tidak ada maka diniatkan kepada jin dan malaikat. 11. Thuma`ninah Menurut jumhurul ulama‟, seperti Al-Malikiyah, Asy-Syafi‟iyah dan AlHanabilah, tuma‟ninah merupakan rukun shalat, yaitu pada gerakan ruku‟, i‟tidal, sujud dan duduk antara dua sujud ‫ َِب‬:‫فَخ‬٠ْ ‫صالَرَُٗ َدػَبُٖ فَمَب َي ٌَُٗ ُؽ َز‬ َ ٝ‫ع‬ َ َ‫ْ َدُٖ فٍََ َّّب ل‬ُٛ‫الَ ُعغ‬َٚ ُٗ‫ْ َػ‬ٛ‫ُزِ ُُّ َس ُو‬٠ َ‫ َس ُعالً ال‬َٜ‫أََُّٔٗ َسأ‬ ْ ِ‫ ِْش اٌف‬١‫ َغ‬ٍَٝ‫ذ َػ‬ َّ ٍَّٝ‫ص‬ َّ ‫ فَطَ َش‬ِٟ‫ط َش ِح اٌَّز‬ َّ ُِ ‫ذ‬ َّ ُِ ٖ‫ا‬ٚ‫ َعٍَّ َُ – س‬َٚ ِٗ ٌِ‫آ‬َٚ ِٗ ١ْ ٍَ‫َّللاُ َػ‬ َ ‫َب ُِ َؾ َّّذًا‬ٙ١ْ ٍَ‫َّللاُ َػ‬

‫فَخ‬٠ْ ‫ػ َْٓ ُؽ َز‬ ٌََْٛٚ َ‫ْذ‬١ٍَّ‫ص‬ َ

ٞ‫اٌجخبس‬ٚ ‫أؽّذ‬ Dari Hudzaifah ra bahwa beliau melihat seseorang yang tidak menyempurnakan ruku‟ dan sujudnya. Ketika telah selesai dari shalatnya, beliau memanggil orang itu dan berkata kepadanya,”Kamu belum shalat, bila kamu mati maka kamu mati bukan di atas fitrah yang telah Allah tetapkan di atasnya risalah nabi Muhammad shallallahu „alaihi wasallam. (HR. Bukhari) 12. Tertib 3. Doa Adapun do‟a yang sering Rasulullah baca ketika selesai shalat ialah sebagai berikut : ‫ ٌّب‬ٟ‫ال ِؼط‬ٚ ‫خ‬١‫ُ ال ِبٔغ أػط‬ٌٍٙ‫ ا‬,‫ش‬٠‫ وُ شئ لذ‬ٍٝ‫ ػ‬ٛ٘ٚ ‫ٌٗ اٌؾّذ‬ٚ ‫ ٌٗ اٌٍّه‬,ٌٗ ‫ه‬٠‫اؽذٖ الشش‬ٚ ‫ال اٌٗ االَّللا‬ ‫ اسري اٌؼّش‬ٌٝ‫ر ثه ِٓ اْ اسد ا‬ٛ‫اػ‬ٚ ٓ‫رثه ِٓ اٌغج‬ٛ‫اػ‬ٚ ً‫رثه ِٓ اٌجخ‬ٛ‫ اػ‬ٝٔ‫ُ ا‬ٌٍٙ‫ٕفغ راٌغذ ا‬٠‫ال‬ٚ ‫ِٕؼذ‬ ‫براٌغالي‬٠ ‫ِٕه اٌغالَ ثزبسوذ سثٕب‬ٚ َ‫ُ أذ ٌغال‬ٌٍٙ‫رثه ِٓ ػزاة اٌمجش ا‬ٛ‫اػ‬ٚ ‫ب‬١ٔ‫رثه ِٓ فزٕخ اٌذ‬ٛ‫اػ‬ٚ َ‫االوشا‬ٚ Setelah slesai seluruh prosesi shalat yang mulai dari takbir hingga salam, kemudian membaca do‟a-do‟a sesuai dengan contoh Rasulullah saw atau dapat juga ditambah asalkan riwatnya sah. Do‟a sesuadah shalat yang pernah dilakukan Rasulullah saw,: 30

“Tidak ada Tuhan kecuali Allah sendiri, tiada sekutu baginya, kepunyaan-Nyalah sekalian kerajaan dan bagi-Nyalah sekalian pujian dan ia di atas sesuatu amat berkuasa. Wahai Tuhan yang tidak ada yang bisa menghlangi apa yang engkau beri dan tidak ada yang bisa menarik manfaat dari padamu untuk si kaya“ (HR. Muttafaqun‟Alaih). “Wahai Tuhanku, aku berlindung kepadamu dari pada kebakhilan dan aku berlindung kepadamu dari pada ketakuta, dan aku berlindung dari padamu daripada umur yang pikun dan aku berlindung kepadamu daripada percobaan hidup dan aku berlindung kepadamu dari azab kubur“ (HR. Bukhari).“Wahai Tuhan, tolonglah aku untuk dapat mengingatmu dan berterima kasih kepadamu dan beribadah yang baik kepadamu“ (HR. Abu Daud, Ahmad dan An-Nasa‟i).

G. Waktu Pelaksanaan Sholat Shalat hanya boleh dikerjakan pada waktu-waktu yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Bila shalat dikerjakan di luar waktu yang telah ditetapkan, maka shalat itu tidak sah. Kecuali bila ada uzur tertentu yang memang secara syariah bisa diterima. Seperti mengerjakana shalat dengan dijama` pada waktu shalat lainnya. Atau shalat buat orang yang terlupa atau tertidur, maka pada saat sadar dan mengetahui ada shalat yang luput, dia wajib mengerjakannya meski sudah keluar dari waktunya. Ada pun bila mengerjakan shalat di luar waktunya dengan sengaja dan diluar ketentuan yang dibenarkan syariat, maka shalat itu menjadi tidak sah. Dalam hal keharusan melakukan shalat pada waktunya, Allah SWT telah berfirman dalam Al-Quran : ْ ٔ‫إِ َّْ اٌصَّالحَ َوب‬ ‫رًب‬ُٛ‫ْ ل‬َِٛ ‫َٓ ِوزَبثًب‬١ِِِٕ ‫ ْاٌ ُّ ْؤ‬ٍَٝ‫َذ َػ‬ "...Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orangorang yang beriman." (QS. An-Nisa : 103) Di dalam Al-Quran sesungguhnya sudah ada sekilas tentang penjelasan waktu-waktu shalat fardhu, meski tidak terlalu jelas diskripsinya. Namun paling tidak ada tiga ayat di dalam Al-Quran yang membicarakan waktu-waktu shalat secara global. َّ ٌِ ٜ‫د َرٌِهَ ِر ْو َش‬ َٓ٠‫ٍزا ِو ِش‬ ِ ‫ِّئَب‬١‫ ُْز ِ٘ ْجَٓ اٌ َّغ‬٠ ‫د‬ ِ ‫ ًِ إِ َّْ ْاٌ َؾ َغَٕب‬١ْ ٌٍَّ‫ ُصٌَفًب َِِٓ ا‬َٚ ‫بس‬ ِ ٌََّٕٙ‫ ا‬ِٟ َ‫أَلِ ُِ اٌصَّالحَ غَ َشف‬َٚ "Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang dan pada bahagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuatan-

31

perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat"(QS. Huud : 114) Menurut para mufassriin, di ayat ini disebutkan waktu shalat, yaitu kedua tepi siang , yaitu shalat shubuh dan ashar. Dan pada bahagian permulaan malam, yaitu Maghrib dan Isya`. Ayat kedua ‫دًا‬ُٛٙ‫لُشْ َءاَْ ْاٌفَغْ ِش إِ َّْ لُشْ َءاَْ ْاٌفَغْ ِش َوبَْ َِ ْش‬َٚ ًِ ١ْ ٌٍَّ‫ك ا‬ ِ ٌُ‫أَلِ ُِ اٌصَّالحَ ٌِ ُذ‬ ِ ‫ َغ َغ‬ٌَِٝ‫ظ إ‬ ِ ّْ ‫ن اٌ َّش‬ٛ Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan Qur`anal fajri. Sesungguhnya Qur`anal fajri itu disaksikan (QS. Al-Isra` : 78) Menurut para mufassrin, di dalam ayat ini disebutkan waktu shalat yaitu sesudah matahari tergelincir , yaitu shalat Zhuhur dan Ashar. Sedangkan gelap malam adalah shalat Maghirb dan Isya` dan Qur`anal fajri yaitu shalat shubuh. Waktu-waktu Shalat Fardhu di Dalam Al-Hadits Sedangkan bila ingin secara lebih spasifik mengetahui dalil tentang waktu-waktu shalat, kita bisa merujuk kepada hadits-hadits Rasululah shallallahu „alaihi wasallam yang shahih dan qath`i. Tidak kalah qath`inya dengan dalil-dalil dari Al-Quran AlKariem. Diantaranya adalah hadits-hadits berikut ini : ُّ َّٝ ٍ‫ص‬ َّٟ ِ‫ صُ َُّ َعب َءُٖ َػ ِٓ ْث ِٓ َػ ْج ِذ َّللاِ أَ َّْ إٌَّج‬، ُ‫ذ اٌ َّش ّْظ‬ َ َ‫صٍِّ ِٗ ف‬ َ َ‫ لُ ُْ ف‬: ٌَُٗ ‫ ِٗ اٌ َّغالَ َِ فَمَب َي‬١ْ ٍَ‫ ًُ َػ‬٠‫َعب َءُٖ ِعج ِْش‬ ِ ٌَ‫ صَ ا‬َّٝ ‫ َش َؽز‬ْٙ ‫اٌظ‬ ٝ َ َ‫صٍِّ ِٗ ف‬ َ َ‫ لُ ُْ ف‬: ‫ صُ َُّ َعب َءُٖ اٌ َّ ْغ ِشةُ فَمَب َي‬، ٍَُٗ‫ ٍء ِِ ْض‬َٟ ْ ‫بس ِظًُّ ُو ًِّ ش‬ َ ‫ص‬ َ َٓ١ْ ‫صش ِؽ‬ َ َ‫صٍِّ ِٗ ف‬ َ َ‫ لُ ُْ ف‬: ‫اٌ َؼصْ ُش فَمَب َي‬ َّ ٍ‫ص‬ ِ ‫ اٌ َؼ‬َّٝ ٍ‫ص‬ ُ َ‫َبة اٌ َّشف‬ ‫ صُ َُّ َعب َءُٖ اٌفَغْ ُش‬، ‫ك‬ َ ‫َٓ غ‬١ْ ‫ اٌ ِؼشَب ُء ِؽ‬َّٝ ٍ‫ص‬ َ َ‫صٍٗ ِِِّ ف‬ َ َ‫ لُ ُْ ف‬: ‫ صُ َُّ َعب َءُٖ اٌ ِؼشَب ُء فَمَب َي‬، ُ‫ذ اٌ َّش ّْظ‬ َ ‫اٌ َّ ْغ ِش‬ ِ َ‫ َعج‬َٚ َٓ١ْ ‫ة ِؽ‬ .ُ‫ق اٌفَغْ ش‬ َ ‫َٓ ثَ ِش‬١ْ ‫ اٌصُّ ج َْؼ ِؽ‬َّٝ ٍ‫ص‬ َ ‫َٓ ثَ ِش‬١ْ ‫ِؽ‬ َ َ‫صٍِّ ِٗ ف‬ َ َ‫ لُ ُْ ف‬: ‫ فَمَب َي‬- ‫َٓ غٍََ َغ اٌفَغْ ُش‬١ْ ‫ْ لَب َي ِؽ‬َٚ‫ق اٌفَغْ ُش –أ‬ Dari Jabir bin Abdullah ra. bahwa Nabi shallallahu „alaihi wasallam didatangi oleh Jibril „alaihissalam dan berkata kepadanya,"Bangunlah dan lakukan shalat". Maka beliau melakukan shalat Zhuhur ketika matahari tergelincir. Kemudian waktu Ashar menjelang dan Jibril berkata,"Bangun dan lakukan shalat". Maka beliau shallallahu „alaihi wasallam melakukan shalat Ashar ketika panjang bayangan segala benda sama dengan panjang benda itu. Kemudian waktu Maghrib menjelang dan Jibril berkata,"Bangun dan lakukan shalat". Maka beliau shallallahu „alaihi wasallam melakukan shalat Maghrib ketika mayahari terbenam. Kemudian waktu Isya` menjelang dan Jibril berkata,"Bangun dan lakukan shalat". Maka beliau shallallahu „alaihi wasallam melakukan shalat Isya` ketika syafaq (mega merah) menghilang. Kemudian waktu Shubuh menjelang dan Jibril berkata,"Bangun dan lakukan shalat". Maka beliau shallallahu „alaihi wasallam melakukan shalat Shubuh ketika waktu fajar menjelang. (HR. Ahmad, Nasai dan Tirmizy. ) 32

Selain itu ada hadits lainnya yang juga menjelaskan tentang waktu-waktu shalat. Salah satunya adalah hadits berikut ini : ْ ِ‫ اٌف‬ٍَٝ‫ َػ‬ِٟ‫الَ رَ َضا ُي أُ َِّز‬: ‫لَب َي‬ َ ‫ا اٌ َّ ْغ ِش‬ٍُّٛ‫ص‬ َ ‫ط َش ِح َِب‬ ِ‫ْ َي َّللا‬ٛ‫ ٍذ أَ َّْ َس ُع‬٠ْ ‫َ ِض‬٠ ِْٓ ‫ت ث‬ ِ ِ‫اٖ ػ َِٓ اٌغَّبئ‬ٚ‫ْ َِ – س‬ُٛ‫ع إٌُّغ‬ ِ ٍُُْٛ‫ة لَج ًَْ غ‬ ٟٔ‫اٌطجشا‬ٚ ‫أؽّذ‬ Dari As-Saib bin Amir radhiyallahu „anhu bahwa Nabi shallallahu „alaihi wasallam bersabda,"Ummatku selalu berada dalam kebaikan atau dalam fithrah selama tidak terlambat melakukan shalat Maghrib, yaitu sampai muncul bintang".(HR. Ahmad, Abu Daud dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak) Dari isyarat dalam Al-Quran serta keterangan yang lebih jelas dari hadits-hadits nabawi, para ulama kemudian menyusun tulisan dan karya ilmiah untuk lebih jauh mendiskripsikan apa yang mereka pahami dari nash-nash itu. Maka kita dapati deskripsi yang jauh lebih jelas dalam kitab-kitab fiqih yang menjadi masterpiece para fuqoha. Diantaranya yang bisa disebutkan adalah : a. Kitab Fathul Qadir jilid 1 halaman 151-160, b. Kitab Ad-Dur Al-Mukhtar jilid 1 halaman 331 s/d 343, c. Kitab Al-Lubab jilid 1 halaman 59 - 62, d. Kitab Al-Qawanin Al-Fiqhiyah halaman 43, e. Kitab Asy-Syarhu Ash-Shaghir jilid 1 halaman 219-338, f. Kitab Asy-Syarhul-Kabir jilid 1 halaman 176-181, g. Kitab Mughni Al-Muhtaj jilid 1 halaman 121 - 127, h. Kitab Al-Muhadzdzab jilid 1 halaman 51 - 54 dan i. Kitab Kasysyaf Al-Qanna` jilid 1 halaman 289 - 298. Di dalam kitab-kitab itu kita dapati keterangan yang jauh lebih spesifik tentang waktu-waktu shalat. Kesimpulan dari semua keterangan itu adalah sebagai berikut : a. Waktu Shalat Fajr (Shubuh) Dimulai sejak terbitnya fajar shadiq hingga terbitnya matahari. Fajar dalam istilah bahasa arab bukanlah matahari. Sehingga ketika disebutkan terbit fajar, bukanlah terbitnya matahari. Fajar adalah cahaya putih agak terang yang menyebar di ufuk Timur yang muncul beberapa saat sebelum matahari terbit. Ada dua macam fajar, yaitu fajar kazib dan fajar shadiq. Fajar kazib adalah fajar yang `bohong` sesuai dengan namanya. Maksudnya, pada saat dini hari menjelang pagi, ada cahaya agak terang yang memanjang dan mengarah ke atas di tengah di langit. Bentuknya seperti ekor sirhan (srigala), kemudian langit menjadi gelap kembali. Itulah fajar kazib. Sedangkan fajar yang kedua adalah 33

fajar shadiq, yaitu fajar yang benar-benar fajar yang berupa cahaya putih agak terang yang menyebar di ufuk Timur yang muncul beberapa saat sebelum matahari terbit. Fajar ini menandakan masuknya waktu shubuh. Jadi ada dua kali fajar sebelum matahari terbit. Fajar yang pertama disebut dengan fajar kazib dan fajar yang kedua disebut dengan fajar shadiq. Selang beberapa saat setelah fajar shadiq, barulah terbit matahari yang menandakan habisnya waktu shubuh. Maka waktu antara fajar shadiq dan terbitnya matahari itulah yang menjadi waktu untuk shalat shubuh. Di dalam hadits disebutkan tentang kedua fajar ini : َّ ‫َٓ اِ ْٔ َش‬١‫ فَأ َلَب ََ اَ ٌْفَغْ َش ِؽ‬:ٝ‫ َع‬ُِٛ ِٟ‫أَث‬ ٌُ ٍِ‫اُٖ ُِ ْغ‬َٚ ‫ُ ُْ ثَؼْعً ب َس‬ٙ‫ع‬ ُ ‫ْشفُ ثَ ْؼ‬ ِ ‫َؼ‬٠ ‫َ َىب ُد‬٠ ‫إٌَّبطُ ال‬َٚ ,ُ‫ك اَ ٌْفَغْ ش‬ Fajar itu ada dua macam. Pertama, fajar yang mengharamkan makan dan menghalalkan shalat. Kedua, fajar yang mengharamkan shalat (shalat Shubuh) dan menghalalkan makan.". (HR. Ibnu Khuzaemah dan Al-Hakim) َّ َ ‫ ُي‬ُٛ‫ لَب َي َسع‬:‫ُ َّب لَب َي‬ْٕٙ ‫َّللاُ َػ‬ َّ َ َٟ ‫ظ‬ ,ُ‫ ِٗ اٌَصَّالح‬١ِ‫ر َِؾًُّ ف‬َٚ ََ ‫ُ َؾشِّ َُ اٌَطَّ َؼب‬٠ ‫ فَغْ ٌش‬:ِْ ‫َّللاِ اَ ٌْفَغْ ُش فَغْ َشا‬ ِ ‫ط َس‬ ٍ ‫ػ َْٓ اِ ْث ِٓ َػجَّب‬ َ َٚ ُُ ‫ ْاٌ َؾب ِو‬َٚ َ‫ َّخ‬٠ْ َ‫اُٖ اِثُْٓ ُخض‬َٚ ‫ ِٗ اٌَطَّ َؼب َُ َس‬١ِ‫َ ِؾ ًَّ ف‬٠َٚ - ‫ْؼ‬ َ : َْٞ‫ أ‬- ُ‫ ِٗ اٌَصَّالح‬١ِ‫فَغْ ٌش رَؾْ ُش َُ ف‬َٚ ُٖ‫ص َّؾ َؾب‬ ِ ‫صالحُ اٌَصُّ ج‬ Dari Ibnu Abbas radhiyallahu „anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,"Fajar itu ada dua macam. Pertama, fajar yang mengharamkan

makan

dan

menghalalkan

shalat.

Kedua,

fajar

yang

mengharamkan shalat (shalat Shubuh) dan menghalalkan makan.". (HR. Ibnu Khuzaemah dan Al-Hakim) Batas akhir waktu shubuh adalah terbitnya matahari sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini. ْ ‫ع اَ ٌْفَغْ ِش َِب ٌَ ُْ ر‬ٍُُٛ‫صال ِح اٌَصُّ جْؼ ِِ ْٓ غ‬ َّ َ َّٟ ِ‫ُ َّب; أَ َّْ َٔج‬ْٕٙ ‫َّللا ُ َػ‬ َّ َ َٟ ‫ظ‬ َّ َ ‫ػ َْٓ َػ ْج ِذ‬ ُ ‫ ْل‬َٚ َٚ :‫َّللاِ لَب َي‬ ‫َطٍُ ْغ‬ َ ‫ذ‬ ِ ‫ َس‬ٍٚ ‫َّللاِ ْث ِٓ َػ ّْ ِش‬ ِ ِ ٌُ ٍِ‫اُٖ ُِ ْغ‬َٚ ‫اٌَ َّش ّْظُ َس‬ Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu „anhu bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam bersabda,"Dan waktu shalat shubuh dari terbitnya fajar (shadiq) sampai sebelum terbitnya matahari". (HR. Muslim) b. Waktu Shalat Zhuhur Dimulai sejak matahari tepat berada di atas kepala namun sudah mulai agak condong ke arah barat. Istilah yang sering digunakan dalam terjemahan bahasa Indonesia adalah tergelincirnya matahari. Sebagai terjemahan bebas dari kata zawalus syamsi. Namun istilah ini seringkali membingungkan karena kalau dikatakan bahwa `matahari tegelincir`, sebagian orang akan berkerut keningnya, "Apa yang dimaksud dengan tergelincirnya matahari?".

34

Zawalusy-syamsi adalah waktu di mana posisi matahari ada di atas kepala kita, namun sedikit sudah mulai bergerak ke arah barat. Jadi tidak tepat di atas kepala. Dan waktu untuk shalat zhuhur ini berakhir ketika panjang bayangan suatu benda menjadi sama dengan panjang benda itu sendiri. Misalnya kita menancapkan tongkat yang tingginya 1 meter di bawah sinar matahari pada permukaan tanah yang rata. Bayangan tongkat itu semakin lama akan semakin panjang seiring dengan semakin bergeraknya matahari ke arah barat. Begitu panjang bayangannya mencapai 1 meter, maka pada saat itulah waktu Zhuhur berakhir dan masuklah waktu shalat Ashar. Ketika tongkat itu tidak punya bayangan baik di sebelah barat maupun sebelah timurnya, maka itu menunjukkan bahwa matahari tepat berada di tengah langit. Waktu ini disebut dengan waktu istiwa`. Pada saat itu, belum lagi masuk waktu zhuhur. Begitu muncul bayangan tongkat di sebelah timur karena posisi matahari bergerak ke arah barat, maka saat itu dikatakan zawalus-syamsi atau `matahari tergelincir`. Dan saat itulah masuk waktu zhuhur. Namun hukumnya mustahab bila sedikit diundurkan bila siang sedang panas-panasnya, dengan tujuan agar memudahkan dan bisa menambah khusyu‟. Dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berikut ini : َّ ٌ‫إِ َرا ا ْشزَ َّذ اٌ َؾشُّ أَ ْث َش َد ثِب‬َٚ ‫صالَ ِح‬ َّ ٌ‫ إِ َرا ا ْشزَ َّذ اٌجَشْ ُد ثَ َّى َش ثِب‬ّٟ ِ‫ َوبَْ إٌَّج‬: ‫بي‬ ٞ‫اٖ اٌجخبس‬ٚ‫صالَ ِح س‬ َ َ‫ظ ل‬ ٍ ََٔ‫ػ َْٓ أ‬ Dari Anas bin Malik radhiyallahu „anhu berkata bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bila dingin sedang menyengat, menyegerakan shalat. Tapi bila panas sedang menyengat, beliau mengundurkan shalat. (HR. Bukhari) c. Waktu Shalat Ashar Waktu shalat Ashar dimulai tepat ketika waktu shalat Zhuhur sudah habis, yaitu semenjak panjang bayangan suatu benda menjadi sama panjangnya dengan panjang benda itu sendiri. Dan selesainya waktu shalat Ashar ketika matahari tenggelam di ufuk barat. Dalil yang menujukkan hal itu antara lain hadits berikut ini : ْ ‫ن ِِ ْٓ اٌَصُّ جْؼ َس ْو َؼخً لَ ْج ًِ أَ ْْ ر‬ َّ َ ‫ َي‬ُٛ‫ َشحَ أَ َّْ َسع‬٠ْ ‫ ُ٘ َش‬ِٟ‫ػ َْٓ أَث‬َٚ ,‫َطٍُ َغ اٌَ َّش ّْظُ فَمَ ْذ أَ ْدسَنَ اٌَصُّ ْج َؼ‬ َ ‫ َِ ْٓ أَ ْد َس‬:‫َّللاِ لَب َي‬ ِ ٌ َ‫ن اَ ٌْ َؼصْ َش ُِزَّف‬ ِٗ ١ْ ٍَ‫ك َػ‬ َ ‫ُة اٌَ َّش ّْظُ فَمَ ْذ أَ ْد َس‬ َ ‫ َِ ْٓ أَ ْد َس‬َٚ َ ‫ن َس ْو َؼخً ِِ ْٓ اَ ٌْ َؼصْ ِش لَ ْج ًَ أَ ْْ رَ ْغش‬ Dari Abi Hurairah radhiyallahu „anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam bersabda,"Orang yang mendapatkan satu rakaat dari shalat shubuh sebelum tebit matahari, maka dia termasuk orang yang mendapatkan shalat shubuh. Dan orang yang mendapatkan satu rakaat shalat Ashar sebelum 35

matahari terbenam, maka dia termasuk mendapatkan shalat Ashar". (HR. Muttafaq „alaihi). Namun jumhur ulama mengatakan bahwa dimakruhkan melakukan shalat Ashar tatkala sinar matahari sudah mulai menguning yang menandakan sebentar lagi akan terbenam. Sebab ada hadits nabi yang menyebutkan bahwa shalat di waktu itu adalah shalatnya orang munafiq. ْ ٔ‫ إِ َرا َوب‬َّٝ‫ظ َؽز‬ ُ ‫ ع َُ ِِ ْػ‬: ‫ظ لَب َي‬ َ ٍْ ِ‫ ر‬: ‫ ُي‬ُٛ‫َم‬٠ َ ّْ ‫َشْ لُتُ اٌ َّش‬٠ ُ‫ َغٍِظ‬٠ ‫ك‬ َ ‫ه‬ ِ‫ َي َّللا‬ُٛ‫ذ َسع‬ ٍ ََٔ‫َٓ ػ َْٓ أ‬١ْ ‫َذ َث‬ ِ ِ‫صالَحُ اٌ َُّٕبف‬ ‫اثٓ ِبعخ‬ٚ ، ٞ‫ إال اٌجخبس‬، ‫اٖ اٌغّبػخ‬ٚ‫الً س‬١ْ ٍَِ‫َ ْز ُو ُش َّللاَ إِالَّ ل‬٠ َ‫طَبَْ لَب ََ فََٕمَ َشَ٘ب أَسْ ثَؼًب ال‬١ْ ‫ اٌ َّش‬َٟٔ ْ‫لَش‬ Dari Anas bin Malik radhiyallahu „anhu berkata,”Aku mendengar Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam bersabda,"...Itu adalah shalatnya orang munafik yang duduk menghadap matahari hingga saat matahari berada di antara dua tanduk syetan, dia berdiri dan membungkuk 4 kali, tidak menyebut nama Allah kecuali sedikit". (HR. Jamaah kecuali Bukhari dan Ibnu Majah). Bahkan ada hadits yang menyebutkan bahwa waktu Ashar sudah berakhir sebelum matahari terbenam, yaitu pada saat sinar matahari mulai menguning di ufuk barat sebelum terbenam. َّ َ َّٟ ِ‫ُ َّب; أَ َّْ َٔج‬ْٕٙ ‫َّللاُ َػ‬ َّ َ َٟ ‫ظ‬ َّ َ ‫ػ َْٓ َػ ْج ِذ‬ ُ ‫ ْل‬َٚ َٚ :‫َّللاِ لَب َي‬ ٌُ ٍِ‫اُٖ ُِ ْغ‬َٚ ‫ذ اَ ٌْ َؼصْ ِش َِب ٌَ ُْ رَصْ فَ َّش اٌَ َّش ّْظُ َس‬ ِ ‫ َس‬ٍٚ ‫َّللاِ ْث ِٓ َػ ّْ ِش‬ Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu „anhu bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam bersabda,"Dan waktu shalat Ashar sebelum matahari menguning".(HR. Muslim) Shalat Ashar adalah shalat wustha menurut sebagian besar ulama. Dasarnya adalah hadits Aisah ra. ْ ُ‫ؽبفِظ‬: َّ َ َٟ ‫ظ‬ َّ ٌ‫ا‬ٚ - َٝ‫ ْعط‬ُٛ ٌ‫صالَ ِح ْا‬ َّ ٌ‫ا‬ٚ ‫د‬ َّ ٌ‫ ا‬ٍَٝ‫ا َػ‬ٛ َٝ‫ ْعط‬ُٛ ٌ‫صالَحُ ْا‬ َ ‫بي‬ َ َ‫ي َّللا ل‬ُٛ َ ‫َب أَ َّْ َسع‬ْٕٙ ‫َّللاُ َػ‬ ِ ‫ا‬َٛ ٍَ‫ص‬ ِ ‫ػ َْٓ ػَبئِ َشخَ َس‬ ‫ؼصش‬ ٌ‫صالَحُ ْا‬ َ ِ Dari Aisah radhiyallahu „anhu bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam membaca ayat :"Peliharalah shalat-shalatmu dan shalat Wustha". Dan shalat Wustha adalah shalat Ashar. (HR. Abu Daud dan Tirmizy dan dishahihkannya) Dari Ibnu Mas`ud dan Samurah radhiyallahu „anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam bersabda,"Shalat Wustha adalah shalat Ashar". (HR. Tirmizy) Namun masalah ini memang termasuk dalam masalah yang diperselisihkan para ulama. Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Authar jilid 1 halaman 311 menyebutkan ada 16 pendapat yang berbeda tentang makna shalat Wustha. Salah satunya adalah pendapat jumhur ulama yang mengatakan bahwa shalat Wustha 36

adalah shalat ashar. Sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa shalat itu adalah shalat shubuh. d. Waktu Shalat Maghrib Dimulai sejak terbenamnya matahari dan hal ini sudah menjadi ijma` (kesepakatan) para ulama. Yaitu sejak hilangnya semua bulatan matahari di telan bumi. Dan berakhir hingga hilangnya syafaq (mega merah). Dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam : َّ َ َّٟ ِ‫ُ َّب; أَ َّْ َٔج‬ْٕٙ ‫َّللاُ َػ‬ َّ َ َٟ ‫ظ‬ َّ َ ‫ػ َْٓ َػ ْج ِذ‬ ُ ‫ ْل‬َٚ َٚ :‫َّللاِ لَب َي‬ ُ َ‫َ ِغتْ اٌَ َّشف‬٠ ُْ ٌَ ‫ة َِب‬ ٌُ ٍِ‫اُٖ ُِ ْغ‬َٚ ‫ك َس‬ َ ‫ذ‬ ِ ‫صال ِح اَ ٌْ َّ ْغ ِش‬ ِ ‫ َس‬ٍٚ ‫َّللاِ ث ِْٓ َػ ّْ ِش‬ Dari Abdullah bin Amar radhiyallahu „anhu bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam bersabda,"Waktu Maghrib sampai hilangnya shafaq (mega)". (HR. Muslim). Syafaq menurut para ulama seperti Al-Hanabilah dan As-Syafi`iyah adalah mega yang berwarna kemerahan setelah terbenamnya matahari di ufuk barat. Sedangkan Abu Hanifah berpendapt bahwa syafaq adalah warna keputihan yang berada di ufuk barat dan masih ada meski mega yang berwarna merah telah hilang. Dalil beliau adalah : Dari Abi Hurairah radhiyallahu „anhu bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam bersabda,"Dan akhir waktu Maghrib adalah hingga langit menjadi hitam". (HR. Tirmizy) Namun menurut kitab Nashbur-rayah bahwa hadits ini sanadnya tidak shahih. e. Waktu Shalat Isya` Dimulai sejak berakhirnya waktu maghrib sepanjang malam hingga dini hari tatkala fajar shadiq terbit. Dasarnya adalah ketetapan dari nash yang menyebutkan bahwa setiap waktu shalat itu memanjang dari berakhirnya waktu shalat sebelumnya hingga masuknya waktu shalat berikutnya, kecuali shalat shubuh. َّ َ ‫ي‬ُٛ ُ ‫ ْل‬َٚ ًَ ‫َ ْذ ُخ‬٠ َّٝ‫ُ َؤ ِّخ َش اٌصَّالحَ َؽز‬٠ ْْ َ‫ػُ أ‬٠‫ إَِّٔ َّب اٌَزَّ ْف ِش‬:‫َّللاِ لَب َي‬ ٍُِ‫ " أَ ْخ َش َعُٗ ُِ ْغ‬ٜ‫ذ اِلُ ْخ َش‬ َ ‫ لَزَب َدحَ أَ َّْ َسع‬ِٟ‫ػ َْٓ أَث‬ Dari Abi Qatadah radhiyallahu „anhu bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam bersabda,"Tidaklah tidur itu menjadi tafrith, namun tafrith itu bagi orang yang belum shalat hingga datang waktu shalat berikutnya". (HR. Muslim) Sedangkan waktu mukhtar (pilihan) untuk shalat `Isya` adalah sejak masuk waktu hingga 1/3 malam atau tengah malam. Atas dasar hadits berikut ini. َٟ ‫ظ‬ ِ ‫ػ َْٓ ػَبئِ َشخَ َس‬

37

َّ َ ‫ ُي‬ُٛ‫ أَ ْػزَ َُ َسع‬:‫ذ‬ َّ َ ْ ٌَ‫َب لَب‬ْٕٙ ‫َّللاُ َػ‬ ‫َب‬ُٙ‫ ْلز‬َٛ ٌَ َُِّٗٔ‫ "إ‬:‫لَب َي‬َٚ ٍَّٝ‫ص‬ َ َ‫ ف‬,‫ ًِ صُ َُّ خَ َش َط‬١ْ ٌٍََّ‫َت ػَب َِّخ ُ ا‬ َ ٘‫ َر‬َّٝ‫ٍَ ٍخ ثِ ْبٌ َؼشَب ِء َؽز‬١ْ ٌَ َ‫َّللاِ َراد‬ َّ ‫ْ ال أَ ْْ أَ ُش‬ٌَٛ ٌُ ٍِ‫اُٖ ُِ ْغ‬َٚ ‫ َس‬ِٟ‫ أُ َِّز‬ٍَٝ‫ك َػ‬ Dari Aisah radhiyallahu „anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam mengakhirkan / menunda shalat Isya` hingga leat tengah malam, kemudian

beliau

keluar

bersabda,"Seaungguhnya

itu

dan

melakukan

adalah

waktunya,

shalat.

Lantas

seandainya

aku

beliau tidak

memberatkan umatku.". (HR. Muslim) ِّ ‫ُؤ‬٠ ْْ َ‫َ ْغزَ ِؾتُّ أ‬٠ َْ‫ َوب‬َٚ :‫ لَب َي‬ِّٟ ِّ ٍَ‫ ثَشْ َصحَ اال ْع‬ِٟ‫ػ َْٓ أَث‬َٚ َ ‫ ْاٌ َؾ ِذ‬َٚ ‫َب‬ٍَٙ‫ْ ََ لَ ْج‬ٌََّٕٛ‫َ ْى َشُٖ ا‬٠ َْ‫ َوب‬َٚ ,‫َخ َش ِِ ْٓ اَ ٌْ ِؼشَب ِء‬ ‫ش ثَ ْؼ َذَ٘ب‬٠ ٌ َ‫ُِزَّف‬ ِٗ ١ْ ٍَ‫ك َػ‬ Dari Abi Bazrah Al-Aslami berkata,”Dan Rasulullah suka menunda shalat Isya‟, tidak suka tidur sebelumnya dan tidak suka mengobrol sesudahnya. (HR. Muttafaq „alaihi) َّٟ ِ‫ َوبَْ إٌََّج‬:‫اٌصُّ ْج َؼ‬َٚ ,‫ا أَ َّخ َش‬ُٛ‫إِ َرا َسآُ٘ ُْ أَ ْثطَئ‬َٚ ,ًََّ ‫ا َػغ‬ُٛ‫َبًٔب إِ َرا َسآُ٘ ُْ اِعْ زَ َّؼ‬١ ْ‫أَؽ‬َٚ ‫َبًٔب‬١ ْ‫ ْاٌ ِؼشَب َء أَؽ‬َٚ :‫ػٓ َعبثِ ٍش لبي‬ ‫ظ‬ َ ُ٠ ٍ ٍَ‫َب ثِ َغ‬ٙ١ٍِّ‫ص‬ Dan waktu Isya‟ kadang-kadang, bila beliau shallallahu 'alaihi wasallam melihat mereka (para shahabat) telah berkumpul, maka dipercepat. Namun bila beliau melihat mereka berlambat-lambat, maka beliau undurkan. (HR. Bukhari Muslim)

Waktu Shalat Yang Diharamkan Ada lima waktu dalam sehari semalam yang diharamkan untuk dilakukan shalat di dalamnya. Tiga di antaranya terdapat dalam satu hadits yang sama, sedangkan sisanya yang dua lagi berada di dalam hadits lainnya. ْ ‫َٓ ر‬١‫ ِؽ‬:‫ْ رَبَٔب‬َِٛ َّٓ ِٙ ١ِ‫أَ ْْ َٔ ْمجُ َش ف‬َٚ ,َّٓ ِٙ ١ِ‫ ف‬ٍِّٟ‫ص‬ َّ َ ‫ ُي‬ُٛ‫د َوبَْ َسع‬ ُ َ‫ػ َْٓ ُػ ْمجَخَ ث ِْٓ ػَب ِِ ٍش ص‬ ‫َطٍُ ُغ‬ ٍ ‫الس َعبػَب‬ َ ُٔ ْْ َ‫َبَٔب أ‬ْٕٙ َ٠ ِ‫َّللا‬ ‫ة‬ َ َ‫َٓ رَز‬١‫ ِؽ‬َٚ , ُ‫ َي اٌَ َّش ّْظ‬ٚ‫ رَ ُض‬َّٝ‫ َش ِح َؽز‬١ِٙ َّ‫ َُ لَبئِ ُُ اٌَظ‬ُٛ‫َم‬٠ َٓ١‫ ِؽ‬َٚ ,‫ رَشْ رَفِ َغ‬َّٝ‫بص َغخً َؽز‬ ِ ُٚ‫َّفُ اٌَ َّش ّْظُ ٌِ ٍْ ُغش‬١‫ع‬ ِ َ‫اٌَ َّش ّْظُ ث‬ ٌُ ٍِ‫اُٖ ُِ ْغ‬َٚ ‫ َس‬Dari 'Uqbah bin 'Amir Al-Juhani radhiyallahu „anhu berkata,"Ada tiga waktu shalat yang Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam melarang kami untuk melakukan shalat dan menguburkan orang yang meninggal di antara kami. [1] Ketika matahari terbit hingga meninggi, [2] ketika matahari tepat berada di tengah-tengah cakrawala hingga bergeser sedikit ke barat dan [3] berwarna matahari berwarna kekuningan saat menjelang terbenam. .(HR. Muslim) Sedangkan dua waktu lainnya terdapat di dalam satu hadits berikut ini : ْ ‫ ر‬َّٝ‫صالحَ ثَ ْؼ َذ اٌَصُّ جْؼ َؽز‬ َّ َ ‫ َي‬ُٛ‫ َع ِّؼْذَ َسع‬:‫بي‬ َ‫صالح‬ ِّ ‫ ٍذ اَ ٌْ ُخ ْذ ِس‬١‫ َع ِؼ‬ِٟ‫ػ َْٓ أَث‬َٚ َ ‫ال‬َٚ ُ‫َطٍُ َغ اٌَ َّش ّْظ‬ َ ‫ ال‬:ُ‫ي‬ُٛ‫َم‬٠ ِ‫َّللا‬ َ َ‫ ل‬ٞ ِ ٌ َ‫ت اٌَ َّش ّْظُ ُِزَّف‬١ ِٗ ١ْ ٍَ‫ك َػ‬ َ ‫ رَ ِغ‬َّٝ‫ثَ ْؼ َذ اَ ٌْ َؼصْ ِش َؽز‬ 38

Dari Abi Said Al-Khudri radhiyallahu „anhu berkata,"Aku mendengar Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam bersabda,"Tidak ada shalat setelah shalat shubuh hingga matahari terbit. Dan tidak ada shalat sesudah shallat Ashar hingga matahari terbenam.(HR. Bukhari dan Muslim). Kedua waktu ini hanya melarang orang untuk melakukan shalat saja, sedangkan masalah menguburkan orang yang wafat, tidak termasuk larangan. Jadi boleh saja umat Islam menguburkan jenazah saudaranya setelah shalat shubuh sebelum matahari terbit, juga boleh menguburkan setelah shalat Ashar di sore hari. Maka kalau kedua hadits di atas kita simpulkan dan diurutkan, kita akan mendapatkan 5 waktu yang di dalamnya tidak diperkenankan untuk melakukan shalat, yaitu : a. Setelah shalat shubuh hingga matahari agak meninggi.

Tingginya matahari sebagaimana di sebutkan di dalam hadits Amru bin Abasah adalah qaida-rumhin aw rumhaini. Maknanya adalah matahari terbit tapi baru saja muncul dari balik horison setinggi satu tombak atau dua tombak. Dan panjang tombak itu kira-kira 2,5 meter 7 dzira' (hasta). Atau 12 jengkal sebagaimana disebutkan oleh mazhab Al-Malikiyah. b. Waktu Istiwa`

Yaitu ketika matahari tepat berada di atas langit atau di tengah-tengah cakrawala. Maksudnya tepat di atas kepala kita. Tapi begitu posisi matahari sedikit bergeser ke arah barat, maka sudah masuk waktu shalat Zhuhur dan boleh untuk melakukan shalat sunnah atau wajib. c. Saat Terbenam Matahari

Yaitu saat-saat langit di ufuk barat mulai berwarna kekuningan yang menandakan sang surya akan segera menghilang ditelan bumi. Begitu terbenam, maka masuklah waktu Maghrib dan wajib untuk melakukan shalat Maghrib atau pun shalat sunnah lainnya. d.

Setelah Shalat Shubuh Hingga Matahari Terbit Namun hal ini dengan pengecualian untuk qadha' shalat sunnah fajar yang terlewat. Yaitu saat seseorang terlewat tidak melakukan shalat sunnah fajar, maka dibolehkan atasnya untuk mengqadha'nya setelah shalat shubuh.

e. Setelah Melakukan Shalat Ashar Hingga Matahari Terbenam.

Maksudnya bila seseorang sudah melakukan shalat Ahsar, maka haram baginya untuk melakukan shalat lainnya hingga terbenam matahari, kecuali 39

ada penyebab yang mengharuskan. Namun bila dia belum shalat Ashar, wajib baginya untuk shalat Ashar meski sudah hampir maghrib. Bila Waktu Shalat Telah Lewat Bila seseorang bangun kesiangan dari tidurnya dan belum shalat shubuh, maka yang harus dilakukan adalah segera shalat shubuh pada saat bangun tidur. Tidak diqadha dengan zhuhur pada siangnya atau esoknya. Sebab kita telah mendapatkan keterangan jelas tentang hal itu dari apa yang dialami oleh Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam sendiri. Beliau dan beberapa shahabat pernah bangun kesiangan dan melakukan shalat shubuh setelah matahari meninggi. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam bersabda: ٌ َ‫َب إال َرٌِهَ ُِزَّف‬ٌَٙ َ‫بسح‬ ِٗ ١ْ ٍَ‫ك َػ‬ ٍ ٌِ‫َظ ْث ِٓ َِب‬ َ َّ‫َب إ َرا َر َو َشَ٘ب ال َوف‬ٍِّٙ‫ص‬ َ ُ١ٍْ َ‫صالحً ف‬ َ َٟ ‫ َِ ْٓ َٔ ِغ‬: ‫ لَب َي‬َّٟ ِ‫ه أَ َّْ إٌَّج‬ ِ َٔ‫ػ َْٓ أ‬ Dari Anas bin Malik ra. bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam bersabda,"Barang siapa yang ketiduran (sampai tidak menunaikan shalat) atau lupa melaksanakannya, maka ia hendaklah menunaikannya pada saat ia menyadarinya”. (HR Muttafaq alaihi) Oleh karena itu, orang-orang yang kesiangan wajib menunaikan shalat shubuh tersebut pada saat ia tersadar atau terbangun dari tidurnya (tentunya setelah bersuci terlebih dahulu), walaupun waktu tersebut termasuk waktu-waktu yang terlarang melaksanakan shalat. Karena pelarangan shalat pada waktu-waktu tersebut berlaku bagi shalat-shalat sunnah muthlak yang tidak ada sebabnya. Sedangkan bagi shalat yang memiliki sebab tertentu, seperti halnya orang yang ketiduran atau kelupaan, diperbolehkan melaksanakan shalat tersebut pada waktu-waktu terlarang. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam bersabda: ْ ‫ن ِِ ْٓ اٌَصُّ جْؼ َس ْو َؼخً لَجًْ أَ ْْ ر‬ َّ َ ‫ي‬ُٛ ْٓ َِ َٚ ,‫َطٍُ َغ اٌَ َّش ّْظُ فَمَ ْذ أَ ْدسَنَ اٌَصُّ ْج َؼ‬ َ ‫ َِ ْٓ أَ ْد َس‬:‫َّللاِ لَب َي‬ َ ‫ َشحَ أَ َّْ َسع‬٠ْ ‫ ُ٘ َش‬ِٟ‫ػ َْٓ أَث‬ ِ ٌ َ‫ن اَ ٌْ َؼصْ َش ُِزَّف‬ ِٗ ١ْ ٍَ‫ك َػ‬ َ ‫ُة اٌَ َّش ّْظُ فَمَ ْذ أَ ْد َس‬ َ ‫أَ ْدسَنَ َس ْو َؼخً ِِ ْٓ اَ ٌْ َؼصْ ِش لَ ْج ًَ أَ ْْ رَ ْغش‬ Barangsiapa yang mendapatkan satu rakaat sebelum matahari terbit maka dia telah mendapatkan shalat tersebut (shalat shubuh)." (HR Bukhari dan Muslim) Salah satu rahasia untuk bisa bangun di waktu shubuh bukan memasang alarm, tetapi dengan cara tidur di awal malam. Kebiasaan tidur terlalu larut malam akan menyebabkan badan lesu dan juga sulit bangun shubuh. Orang yang tidur di awal malam, pada jam 04.00 dini hari sudah merasakan istirahat yang cukup. Secara biologis, tubuh akan bangun dengan sendirinya, bergitu juga dengan mata. 40

Sebaliknya, orang yang tidur larut malam, misalnya di atas jam 24.00, sulit baginya untuk bangun pada jam 04.00 dini hari. Sebab secara biologis, tubuhnya masih menuntut lebih banyak waktu istirahat lebih banyak. Tapi yang paling utama dari semua itu adalah niat yang kuat di dalam dada. Ditambah dengan kebiasaan yang baik, dimana setiap anggota keluarga merasa bertanggung-jawab untuk saling membangunkan yang lain untuk shalat shubuh. Kalau mau memasang alarm, letakkan di tempat yang mudah terjangkau, deringnya cukup lama dan harusa memekakkan telinga. Jangan diletakkan di balik bantal, karena biasanya dengan mudah bisa dimatikan lalu tidur lagi H. Hikmah dan Manfaat Sholat "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka" (QS. Ali Imran 191) Shalat merupakan ibadah yang penting dan utama bagi umat Islam. Begitu pentingnya shalat sehingga untuk memberikan perintah shalat Allah berkenan memanggil sendiri Rasulullah SAW untuk menghadap-Nya secara langsung. Sedangkan untuk perintah-perintah Allah yang lain selalu disampaikan kepada Rasulullah melalui perantaraan malaikat Jibril. Karena shalat merupakan ibadah yang terpenting bagi kehidupan umat, maka tentulah banyak mengandung hikmah baik ditinjau secara moral (rohani) maupun fisik (jasmani). 1. Tinjauan dari segi moral Shalat merupakan benteng hidup kita agar jangan sampai terjerumus ke dalam perbuatan keji dan munkar. Hal ini tampak jelas dalam firman Allah SWT : "Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar"(QS. Al Ankabut 45) Shalat yang khusu‟ mewujudkan suatu ibadah yang benar-benar ikhlas, pasrah terhadap zat Yang Maha Suci dan Maha Mulia. Di dalam shalat tersebut kita meminta segala sesuatu dari-Nya, memohon petunjuk untuk mendapatkan jalan yang lurus, mendapat limpahan rahmat, rizki, barokah dan pahala dari-Nya. Oleh karena itu orang yang shalatnya khusu‟ dan ikhlas karena Allah SWT akan selalu merasa dekat kepada-Nya dan tidak akan menghambakan diri, tidak akan menjadikan panutan selain daripada Allah SWT. Dengan kata lain segala sesuatu yang dilakukan hanyalah karena Allah dan hanya untuk mendapatkan ridlo‟ dari Allah. Maka pantaslah jika Allah berfirman :

41

"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (yaitu) orang-orang yang khusu‟ dalam sembahyangnya" (QS. Al Mu‟minuun 1-2) Disamping itu shalat juga membersihkan jiwa dari sifat-sifat yang buruk, khususnya cara-cara hidup yang materialis yang menjadikan urusan duniawi lebih penting dari segala-galanya termasuk ibadah kepada Allah. Kebersihan dan kesucian jiwa ini digambarkan dalam sebuah hadits : "Jikalau di pintu seseorang diantara kamu ada sebuah sungai dimana ia mandi lima kali, maka apakah akan tinggal lagi kotorannya (yang melekat pada tubuhnya) ? Bersabda Rasulullah saw : „Yang demikian itu serupa dengan shalat lima waktu yang (mana) Allah dengannya (shalat itu) dihapuskan semua kesalahan‟." (HR. Abu Daud) Yang dimaksud kesalahan disini adalah yang berupa dosa-dosa kecil, sedangkan yang berupa dosa besar tetap wajib dengan bertaubat kepada Allah. Jadi pada hakekatnya shalat itu mendidik jiwa kita agar terhindar dari sifat-sifat takabur, sombong, tinggi hati, dan sebagainya, serta mengarahkan kita agar selalu tawakal dan berserah diri kepada Allah SWT. Hal ini karena pada dasarnya manusia selalu berkeluh kesah apabila ditimpa kesusahan dan bersifat kikir apabila mendapat kebaikan, ini sesuai dengan salah satu firman Allah : "Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan, maka ia berkeluh kesah dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya" (QS. Al Ma‟aarij) Apabila kita mendapat suatu musibah maupun kesulitan, maka kita harus memohon pertolongan kepada Allah dengan mengerjakan shalat dan bersabar serta tawakal. "Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusu‟." (QS. Al Baqarah 45) "Hai orang-orang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al Baqarah 153) Di dalam salah satu firman-Nya Allah juga menegaskan nilai positif dari shalat :

42

"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram" (QS. Ar Ra‟d 28) Disamping hal-hal diatas, shalat juga membina rasa persatuan dan persaudaraan antara sesama umat Islam. Hal ini dapat kita lihat antara lain, apabila seseorang shalat tidak dalam keadaan yang khusus pasti selalu menghadap kiblat yaitu Ka‟bah di Masjidil Haram Mekah. Umat Islam di seluruh dunia mempunyai satu pusat titik konsentrasi dalam beribadah dan menyembah kepada Khaliq-nya yaitu Ka‟bah, hal ini akan membawa dampak secara psikologis yaitu persatuan, kesatuan, dan kebersamaan umat. Contoh lain adalah pada shalat berjamaah, shalat

berjamaah

juga

mengandung

hikmah

kebersamaan,

persatuan,

persaudaraan dan kepemimpinan dimana pada setiap gerakan shalat ma‟mum mempunyai kewajiban mengikuti gerakan imam, sedangkan imam melakukan kesalahan, maka ma‟mum wajib mengingatkan. Sehingga pada shalat berjamaah keabsahan maupun kebenaran dalam shalat lebih terjamin, dan diantara jama‟ah akan timbul rasa kebersamaan dan persatuan untuk menyelamatkan jama‟ah mereka. Ibarat orang berkendaraan, penumpang akan selalu ikut menjaga keamanan dan keselamatan kendaraan yang ditumpanginya. Oleh karena itu tidaklah berlebihan jika shalat berjamaah mendapatkan tempat yang lebih dibandingkan dengan shalat sendiri. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw : "Shalat berjamaah lebih utama (pahalanya) dua puluh derajat" (HR. Bukhary & Muslim dari Ibnu Umar) 2. Tinjauan dari segi fisik (kesehatan) Shalat disamping mengandung hikmah secara moral seperti diuraikan diatas, juga mengandung hikmah secara fisik terutama yang menyangkut masalah kesehatan. Hikmah shalat menurut tinjauan kesehatan ini dijelaskan oleh DR. A. SABOE yang mengemukakan pendapat ahli-ahli (sarjana) kedokteran yang termasyhur terutama di barat. Mereka berpendapat sebagai berikut : 1. Bersedekap, meletakkan telapak tangan kanan diatas pergelangan tangan kiri merupakan istirahat yang paling sempurna bagi kedua tangan sebab sendi-sendi, otot-otot kedua tangan berada dalam posisi istirahat penuh. Sikap seperti ini akan memudahkan aliran darah mengalir kembali ke jantung , serta memproduksi getah bening dan air jaringan dari kedua 43

persendian tangan akan menjadi lebih baik sehingga gerakan di dalam persendian akan menjadi lebih lancar. Hal ini akan menghindari timbulnya bermacam-macam penyakit persendian seperti rheumatik. Sebagai contoh, orang yang mengalami patah tangan, terkilir maka tangan/lengan penderita tersebut oleh dokter akan dilipatkan diatas dada ataupun perut dengan mempergunakan mitella yang disangkutkan di leher. 2. Ruku‟, yaitu membungkukkan badan dan meletakkan telapak tangan diatas lutut sehingga punggung sejajar merupakan suatu garis lurus. Sikap yang demikian ini akan mencegah timbulnya penyakit yang berhubungan dengan ruas tulang belakang, ruas tulang pungung, ruas tulang leher, ruas tulang pinggang, dsb. 3. Sujud, sikap ini menyebabkan semua otot-otot bagian atas akan bergerak. Hal ini bukan saja menyebabkan otot-otot menjadi besar dan kuat, tetapi peredaran urat-urat darah sebagai pembuluh nadi dan pembuluh darah serta limpa akan menjadi lancar di tubuh kita. Dengan sikap sujud ini maka dinding dari urat-urat nadi yang berada di otak dapat dilatih dengan membiasakan untuk menerima aliran darah yang lebih banyak dari biasanya, karena otak (kepala) kita pada waktu itu terletak di bawah. Latihan semacam ini akan dapat menghindarkan kita mati mendadak dengan sebab tekanan darah yang menyebabkan pecahnya urat nadi bagian otak dikarenakan amarah, emosi yang berlebihan, terkejut dan sebagainya yang sekonyong-konyong lebih banyak darah yang di pompakan ke urat-urat nadi otak yang dapat menyebabkan pecahnya uraturat nadi otak, terutama bila dinding urat-urat nadi tersebut telah menjadi sempit, keras, dan rapuh karena dimakan usia. 4. Duduk Iftirasy (duduk antara dua sujud & tahiyat awal), posisi duduk seperti ini menyebabkan tumit menekan otot-otot pangkal paha , hal ini mengakibatkan

pangkal

paha

terpijit.

Pijitan

tersebut

dapat

menghindarkan atau menyembuhkan penyakit saraf pangkal paha (neuralgia) yang menyebabkan tidak dapat berjalan. Disamping itu urat nadi dan pembuluh darah balik di sekitar pangkal paha dapat terurut dan tirpijit sehingga aliran darah terutama yang mengalir kembali ke jantung

44

dapat mengalir dengan lancar. Hal ini dapat menghindarkan dari pengakit bawasir. 5. Duduk tawaruk (tahiyat akhir), duduk seperti ini dapat menghindarkan penyakit bawasir yang sering dialami wanita yang hamil. Kemudian duduk tawaruk ini juga dapat untuk mempermudah buang air kecil. 6. Salam, diakhiri dengan menoleh ke kanan dan ke kiri. Hal ini sangat berguna untuk memperkuat otot-otot leher dan kuduk, selain itu dapat pula untuk menghindarkan penyakit kepala dan kuduk kaku. Dari penjelasan diatas, maka dapatlah disimpulkan bahwa sholat disamping merupakan ibadah yang wajib dan istimewa ternyata juga mengandung manfaat yang sangat besar bagi kesejahteraan dan kebahagiaan hidup umat manusia.

45

BAB III SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan Ada beberapa hal yang dapat kami simpulkan dari kajian teori yang telah kami paparkan 1. Sholat merupakan ibadah kepada Tuhan, berupa perkataan denga perbuatan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam menurut syarat dan rukun yang telah ditentukan syara 2. Sholat hukumnya wajib bagi setiap umat Islam yang sudah baligh dan berakal sehat, sesuai dengan dalil dalam Al-Quran dan Hadist 3. Sholat merupakah perintah yang Allah wahyukan kepada Nabi Muhammad SAW pada saat Isra‟ Mi‟raj 4. Sebelum melaksanakan sholat, didahului dengan adzan, yaitu seruan atau panggilan untuk melaksanakan sholat 5. Kriteria mengenai sholat terdiri dari syarat wajib dan syarat sah sholat 6. Struktur sholat yang seharusnya kita kerjakan adalah sholat yang sesuai dengan yang telah dicontohkan Nabi Muhammad SAW, beserta bacaan-bacaan dan gerakan yang sesuai dengan yang tercantum dalam Hadist 7. Waktu pelaksanaan untuk sholat subuh, dhuhur,ashar, maghrib, dan isya‟ sudah tertera dalam Quran dan Hadist, yang memiliki batas waktu pelaksanaannya 8. Sholat merupakan tiang agama. Sholat memiliki manfaat bagi jiwa dan raga kita. Bagi jiwa, menjauhkan kita dari sifat dengki dan mungkar sedangkan bagi raga, bisa menyehatkan B. Saran Ada beberapa saran yang ingin kami sampaikan 1. Setelah mengetahui hal ihwal mengenai sholat, hendaknya kita semakin sadar untuk menyempurnakan sholat kita layaknya Nabi Muhammad SAW 2. Sholatlah secara tuma‟ninah dan khusuk karena sholat merupakan indikator utama akhlak dan pahala bagi seorang muslim 3. Sholatlah tepat pada waktunya 4. Jaga pakaian dan aurat ketika akan sholat

46

DAFTAR PUSTAKA

Rasyid Sulaiman, Fiqih Islam, (Bandung : Sinar Baru Algensindo, 1994). Nasution Lahmuddin, Fiqih Ibadah (Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1999). As‟ad Aliy, Fathul Mu‟in (Kudus : Menara Kudus, 1979 M). Abdul Karim Nafsin, Menggugat Orang Sholat Antara Konsep dan Realita (Mojokerto : C Al-Himah, 2005).

47

Related Documents

Makalah Sholat 2
February 2021 1
Fiqih Sholat
March 2021 0
Hadist Sholat
March 2021 0
Makalah Chlorophyta 2
March 2021 0

More Documents from "khumairahnila"